Jumat, 28 November 2014

Kembali ke Rumah

“Manusia lebih banyak memimpikan pulang ke rumah daripada meninggalkan rumah,” demikian Paulo Coelho – penulis asal Rio de Janeiro, Brazil – menggambarkan dalam novelnya The Alchemist nasehat sang alkemis pada Santiago, anak gembala yang berasal dari Spanyol yang dalam perjalanan mengejar impiannya untuk menemukan harta karun yang terpendam di Piramida-piramida Mesir.

Rumah dalam makna terangnya adalah kediaman kita dan keluarga, di sanalah bermula titik kehidupan. Di rumahlah pohon keakraban keluarga tumbuh dan disirami saban waktu, di sana ada canda, senyum, doa-doa, dorongan, dan harapan yang tidak terhitung jumlahnya. Terkadang memang seperti halnya pelaut, ada gelombang, desau angin, bahkan badai, tetapi kapal dari rumah kita harus tetap kokoh dan meneruskan perjalanannya ke pulau impian.

Sebagian dari kita mungkin pergi meninggalkan rumah masa kecil, padahal di sana tersimpan potongan kehidupan kita, kasih sayang orang tua, keceriaan bermain, kesedihan, dan ragam keluguan lainnya. Maka sesekali jenguklah kembali, karena ia akar bagi kerimbunan pohon hidup kita sekarang. Sedangkan sebatang pohon yang tercerabut dari akarnya hanya menunggu waktu bagi kelayuan dan kematiannya.

Rumah dalam makna berikutnya adalah apa yang tersimpan di dalam diri kita, yaitu hati. Mendengarkan kata hati artinya kenyamanan di rumah kehidupan. Sedangkan pengabaian atau ketidakpedulian (uncaring) terhadap bisikan halusnya adalah peperangan, dan tidak ada peperangan yang lebih besar kecuali peperangan dengan hati nurani. Seseorang mungkin memimpin banyak orang, tetapi ia tidak akan pernah bisa menjadi pemimpin besar kalau bersengketa dengan hatinya. Orang-orang jujur, menjaga integritas diri, bekerja keras, mengasihani, berbagi adalah orang-orang yang damai dengan hatinya. Tetapi sebaliknya – mereka yang membalut kebohongan, berkata kasar, mencaci maki, memelihara kemalasan, mementingkan diri sendiri – adalah sebaliknya.

Dan rumah dalam makna yang lainnya adalah agama. Bagi mereka yang tidak beragama sesungguhnya tidak memiliki rumah. Rumah kediaman yang berupa fisik dan rumah di dalam diri berupa hati hanya akan nyaman untuk dihuni dan ditunggui kalau ia berada dalam rumah besar yang di sebut agama. Di rumah besar ini diatur hidup bersosial dengan lingkungan sekitarnya, bagaimana memperlakukan keluarga, hak dan kewajiban bertetangga, regulasi hidup bermasyarakat dan bernegara, bahkan sikap manusia terhadap binatang, tetumbuhan dan alam semesta. Dan di rumah besar ini juga diajarkan cara merawat rumah yang ke-dua, apa yang tersimpan di dalam diri.

Akhirnya, kalau misalnya sudah terlalu jauh berjalan kembalilah ke rumah. Temui lagi tawa dan canda keluarga, lihat atau ingatlah raut muka ayah dan ibu, bongkarlah kebohongan dan kekerasan yang diperturutkan, dan penuhi panggilan Tuhan untuk kembali pulang ke rumah. Kata nabi “Baiti jannati-rumahku adalah surgaku.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar