Libatkan diri Kita dalam Kegiatan yang Bermanfaat
Oleh Muklisin Raya Al-Bonai
Salah satu dari realisasi mengisi waktu luang adalah memiliki inisiatif untuk memanfaatkannya dengan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan yang bisa membangun kepribadian yang dinamis. Dorongan ini timbul dari sebuah inisiatif, inspirasi dalam diri untuk memulai lebih awal dengan melihat peluang yang mungkin diperoleh oleh seseorang.
Inisiatif inilah yang sangat dibutuhkan oleh orang sukses dalam mengatasi rasa malas ketika berdiam diri karena dengan melibatkan diri dalam suatu kegiatan, secara otomatis peluang untuk berteman dengan malas akan menipis dan hilang. Ambillah inisiatif dan kebijakan terhadap diri Anda untuk berperan dalam kegiatan bermanfaat. “Jadilah inisiator atau pelopor penggerak dan laksanakan. Jadilah sukarelawan. Perlihatkan Anda mempunyai kemampuan dan ambisi untuk berbuat.” (David J Schwartz).
Inisiatif inilah yang diadopsi oleh orang-orang besar, pahlawan dan pendiri-pendiri bangsa dan negara ini. Misalnya, sang proklamator, mereka telah mengambil inisiatif sebagai partner perjuangannya hingga mereka berani berjuang untuk merdeka. Mereka memang pelopor sejati. Mereka telah melibatkan diri dan kehidupannya dalam hal dan kegiatan yang sangat besar. Bukan mimpi jika bangsa ini merdeka dulu. Mereka dan kita telah membuktikan. Sang inisiator telah berjuang dan sebagai pahlawan, bagaimana dengan kita? Ini memang membutuhkan pikiran dan berjiwa besar. Kita harus bersedia membiasakan jiwa kita menjadi besar, kepala terangkat harga diri terhormat. Apabila manusia memiliki jiwa yang besar, pekerjaan yang besar dianggap kecil. Apabila manusia memiliki jiwa yang kecil, pekerjaan yang kecil dianggap besar. (Prof. Dr. Buya Hamka).
*Berani Maju Tanpa Rasa Malas
Kamis, 23 Januari 2020
Jumat, 17 Januari 2020
LUPA
LUPA
![]() |
| photo by wikipedia |
Hembusan angin senja menyapa semesta. Bumi
Melayu kembali dicumbui oleh udara panas yang menjilat-jilat aspal, serasa
panas mendidih keluar dari perut bumi, panasnya memuncak ke ubun-ubun. Di jalan
raya kendaraan dan orang-orang ramai berlalu-lalang, hilir-mudik seperti aliran
sungai Siak. Agaknya panas hari ini menandakan alam Melayu yang kaya akan
tambang minyak bumi. Makanya panasnya menebar di seluruh sudut-sudut, serta
jantung kota Pekanbaru yang juga dikenal dengan nama kota Bertuah. Akan tetapi
panasnya belum seberapa dibandingkan panas masyarakat Melayu yang antri membeli
BBM, dan kadang-kadang keburu habis, walau kabarnya minyak di atas, minyak di
bawah. Tampak seorang remaja dengan wajah pucat memasuki gang-gang kecil di pinggiran
sungai Siak. Jalannya sempoyongan memasuki sebuah pagar rumah berwarna kuning.
“Treeeeeeeeeeeeeeeeng.”
“Oh, Tuhan! Apa yang terjadi dengan anakku!”
Bu Sri membalikkan tubuh anaknya yang tergeletak di depan
pintu. Perlahan ia tatap anaknya yang separuh sadar. Dengan air mata yang deras
mengaliri pipinya. Dia membangunkan anaknya dari tumpukan serpihan-serpihan
kaca jendela.
“Pergi kau, jangan injakkan kakimu di rumah ini.” Tiba-tiba
suara bapaknya dengan amat murka seperti guntur.
“Pak, sudah Pak.” Ibu Sri mencoba menenangkan suaminya.
“Mungkin kau akan sadar jika kau lupa dengan rumah ini,”
bentak bapaknya.
“Sudah Pak, ia lagi terluka.”
“Biar ia rasakan. Apa ia tidak tahu hari apa sekarang.
Hari pertama Ramadhan malah berbuat maksiat. Memalukan keluarga. Untuk apa saya
sekolahkan jauh-jauh kalau begini jadinya.”
“Ranggona, kau dengar Ibu nak, jangan pergi.”
“Bapak benar Bu, aku harus melupakan rumah ini.”
Ranggona berdiri. Ia melangkah keluar pagar rumah. Ibunya
dengan air mata berlinang mencoba menahannya. Tapi keputusannya sudah bulat. Ia
harus pergi meninggalkan rumahnya. Entah ke mana. Mengikuti langkah dan para
serdadu debu jalanan. Dengan jalan yang sempoyongan. Sesekali kakinya
tersandung batu. Jatuh. Berdiri dengan tertatih-tatih. Mentari senja mulai
menguning. Sekawanan burung mulai mencari sarangnya. Kepingan-kepingan awan
seperti menikmati bulan madu untuk menghitamkan langit senja bumi Lancang
Kuning kota Bertuah.
***
“Mau ke mana nak?” seorang kakek berambut putih bertanya ke
pada Ranggona.
“Aku tidak tahu Kek,” jawabnya cuek.
“Kau berjalan, tapi tidak tahu tujuan, aneh!”
“Aku lupa jalan Kek.”
“Masih muda sudah pikun.”
“Sudah bau tanah, masih ngurusin orang, dasar orang tua!”
celoteh Ranggona berlalu meninggalkan kakek tua tersebut yang
menggelang-gelengkan kepalanya melihat ulah Ranggona.
Segerombolan gerimis berkejar-kejaran mengiringi
panggilan Ilahi di surau di ujung jalan. Langit senja yang kemerah-merahan
mulai berbaur dengan gelapnya awan hitam. Gontai langkah Ranggona menyusuri jalan
yang dipenuhi serdadu kerikil yang menggigil kedinginan dicumbui gerimis.
Matanya yang dari tadi begitu berat menahan kantuk.
“Gdruuuuuuuuuuuuuuuuuuk.”
“Aaaaaaaaaaak.” Ia meringgis kesakitan. Matanya berat dan
bertambah berat. Ia tidak bisa bangkit. Tubuhnya lemas. Pandangannya gelap.
“Dasar manusia dungu, jalan selebar ini, malah masuk
parit.”
“Hei, siapa kau?” sambil mencoba mengucek matanya dan
melihat ke arah suara.
“Aku di sini, di belakangmu.”
“Kambing, kau seekor kambing bau.” Ia melihat kambing itu
bicara padanya.
“Biarlah aku bau, asalkan tidak dungu sepertimu.”
“Baik, hai kambing bau, mau ke mana kau?” Ranggona balik
bertanya.
“Aku mau pulang ke rumahku, menemui ibu dan
bapakku. Engkau sendiri?” “Aku tidak tahu, aku lupa rumahku,” jawab Ranggona
pesimis.
“Kasihan, masih muda tapi dungu.”
“Jangan mengejekku, apa kau mau membantuku?”
“Baik, apa yang bisa aku bantu?”
“Aku ingin pulang ke rumah sepertimu, tapi aku lupa.
Maukah kau berbaik hati meminjamkanku ingatanmu?”
“Baik, tapi dengan syarat, aku juga ingin merasakan
menjadi manusia sepertimu. Jadi pinjamkan aku ragamu.”
“Setuju. Terima kasih!” ujar Ranggona bahagia. Sekarang ia
sudah ingat rumahnya. Kapanpun ia mau pulang ia bisa. Sialnya ia tidak pulang
ke rumah, malah berniat ke tempat teman-temannya yang lagi pesta narkoba dan
miras.
“Sekarang kau bisa pulang.”
“Aku rasa aku belum saatnya pulang. Cihui...aku sudah
ingat rumah, mending aku fly dulu, ngedrug. Ke tempat Jolo.”
“Ngedrug? Hheh, tubuhku kupinjamkan bukan untuk ngedrug
dan mabuk-mabukan. Sekarang kau harus merangkak dan makan rumput,” tegas
kambing itu berlalu.
Dingin malam semakin
merajalela. Walau tampak sesekali bintang bersanding mesra dengan bulan.
Saking happynya ia tidak memperhatikan bentuk tubuhnya yang tidak normal
lagi. Jalanya kini merangkak. Sesekali ia berhenti mencari rumput.
“Busyet...gawat...mengapa
jalanku seperti kambing, aku berbulu, berjenggot. Bau. Iiih..” Ia panik
setengah mati. Ternyata ia telah bertukar raga dengan ingatan si kambing.
“Bedebah, mana ragaku yang tampan itu. Dasar kambing
sialan. Kalau begini keadaanku, bukan diajak nongkrong, malah diguling.” Ia tak
habis pikir mengapa bisa begini. Walau pun ia ingat rumah, tapi keadaannya yang
tak memungkinkan untuk pulang.
***
Langit tampak tersenyum menemani sang rembulan. Terang
bulan menyoroti bumi Lancang Kuning negeri Melayu itu. Cahayanya mengintip malu
di celah dedaunan Akasia. Tanpak Ranggona duduk di sebelah surau tua di ujung
jalan. Matanya kosong menatap malam. Ia meperhatikan bentuk tubuh barunya yang
bau itu.
“Dasar kambing bau, kerjanya cuma bermalasan di samping
surau tua.”
“Siapa itu, keluar kau kalau berani?”
“Dari tadi aku sudah ke luar kawan, dekat perutmu.”
“Hhhah...sssiapa kau?”
“Aku kodok hijau, kamu pasti kambing yang kehilangan
induk ya?”
“Bukan kehilangan induk, tapi kehilangan raga!”
“Maksudmu?”
“Aku ini manusia, tapi aku menukarkan ragaku dengan
ingatan si kambing ini, karena aku lupa di mana rumahku.”
“Jadi, di mana raga aslimu?”
“Lhoh..mestinya aku yang bertanya, apa kau melihat
manusia yang berprilaku kambing?”
“Coba kuingat, ya....tadi ada anak muda yang pakaiannya
kumuh makan daun rambutan.”
“Ya, pasti itu aku yang lagi berjiwa kambing,
tidak....itu kambing yang berjiwa sepertiku, itu kambing atau aku?” Ranggona
kebingungan sendiri.
“Kawan, kau terlihat bingung, aku bersedia membantumu.”
“Pakai syarat? Kalau pakai syarat aku tidak mau.”
“Berbuat baik tidak pakai syarat, begini, aku tahu tempat
pemuda yang berjiwa kambing itu berada.”
“Di mana?”
“Di seberang sungai kecil sana.”
“Wah, aku tidak bisa berenang, kambing sejarahnya tidak
mandi. Apa kau mau membantuku menyeberang ke sana?”
“Tidak mungkin. Kau berat. Kecuali..... kau seperti aku.”
“Bagaimana caranya supaya aku sepertimu?”
“Mudah saja, kau boleh pinjam ragaku untuk menyeberang,
tinggalkan kambing ini dan juga akalmu,” tawar si kodok.
“Baiklah, aku sepakat.” Akhirnya dengan mudah Ranggona
menyebarang. Dengan beberapa kali lompatan. Ia ke daratan. Tapi ia kebingungan.
Tidak ada satu pun yang ia ingat.
“Tubuhku sangat ringan, waduh...kakiku hijau, badanku
hijau. Aku jadi kodok. Tidak....” Ia lemas tak percaya. Lagi-lagi ia terkecoh.
Kali ini ia bisa menyeberang, tapi ingatan dan akalnya tinggal di seberang
dalam kepala kambing sama si kodok hijau.
“Bodoh..”
“Heii siapa kau, ooh...kura-kura...jangan kau coba
menipuku.”
“Siapa yang ingin menipumu? Malah aku heran, ada saja
manusia yang dungu mau menjadi seekor kambing dan kodok hijau.”
“Bagaimana mungkin kau bisa tahu tentang apa yang
menimpaku?” tanya Ranggona heran.
“Aku kura-kura yang dulu setia pada seorang raja yang menguasai
para hewan, manusia, jin dan syetan,” jelas kura-kura itu.
“Siapakah dia itu, sungguh hebat?” tanya Ranggona
penasaran.
“Kau tak mungkin mengenalnya, jika kau tak pernah
mengenal yang menciptakan dan memberikan kekuasaan padanya.”
“Ternyata..ada lagi yang lebih hebat di atasnya, dia yang
menciptakan rajamu dan memberikannya kekuasaan. Siapakah dia?” tanya Ranggona
takjub.
“Manusia kodok yang aneh. Mungkin kau tidak tahu bahwa Dia
bisa merubah apa pun yang Dia kehendaki.”
“Tttermasuk merubahku menjadi manusia lagi? Siapakah nama
rajamu tadi?”
“Sulaiman. Untuk apa kau menayakan namanya?”
“Aku ingin bertemu dengannya.”
“Untuk apa kau bertemu dengannya?”
“Aku ingin meminta bantuannya untuk bertemu dengan yang menciptakannya.”
“Untuk apa kau bertemu dengan yang menciptakannya?”
“Jangan banyak tanya! Aku hanya ingin protes tentang
ingatanku yang hilang.”
“Dia adalah Tuhan Yang Maha Suci, Dia hanya bisa ditemui
oleh manusia yang beragama.”
“Sepertinya aku pernah mendengar kata ‘agama’ itu, tapi masalahnya
aku lupa.”
“Apakah kau punya agama?” tanya kura-kura.
“Agama? Untuk siapakah agama itu?” Ranggona malah balik
bertanya.
“Untuk orang yang punya akal, karena hanya dengan agama
Tuhan bisa ditemui.”
“Waduh....gawat...aku lupa apakah aku punya agama atau
tidak, akalku masih tertinggal sama kodok hijau. Yang penting aku ingin bertanya
pada-Nya tentang ingatanku. Jadi Dia tak bisa kutemui tanpa akal atau agama?”
“Bagaimana mungkin kau protes tentang ingatanmu,
sementara selama ini kau lupa dengan yang menciptakan ingatanmu itu. Kau takkan
bisa bertemu dengan Tuhan jika kau tak punya akal dan agama.”
“Hahhhh.....!!"
***
Malam semakin pekat. Sesekali cahaya bulan menebar senyum
indahnya di wajah bumi Lancang Kuning. Suara hingar-bingar jangkrik begitu khas
memecah kesunyian malam.
“Dik..dik...bangun!”
“Aku sudah beragama. Izinkan aku bertemu dengan Tuhan?”
“Dik..sadar...”
“Baapak siapa? Aku di mana?” Ranggona membuka matanya. Ia
melihat sosok putih di hadapannya. Ia takut. Kalut.
“Tenang, dik, Bapak jamaah di surau ini.” Seorang yang
berjubah putih mencoba menenangkannya.
“Mengapa tubuhku basah kuyup begini? Apa aku bermimpi?
Tidak mungkin...ini nyata. Aku mau pulang!”
“Adik tinggal di mana?”
“Aku lupa. Aku mau pulang ke rumah!”
“Dik, coba ceritakan apa yang terjadi padamu?”
“Aku lupa.”
“Apa agamamu, dik?”
“Agama. Aku lupa. Aku ingin bertemu Tuhan.”
“Baiklah, kalau kau ingin bertemu Tuhan. Sucikan dirimu
terlebih dahulu.”
“Aku tidak tahu apa itu bersuci.”
“Lantas, apa yang membuatmu ingin bertemu Tuhan?”
“Aku ingin ingatanku dikembalikan agar aku bisa pulang.”
“Apakah kau pernah mengingat-Nya di waktu lapang? Jika
kau mengingat-Nya di waktu lapang, pasti Dia mengingatmu di waktu sempit.”
“Aku lupa. Pak, beri tahu aku, malam apa ini?”
“Awal malam mulia.”
“Maksud bapak?”
“Inilah malam bulan penuh berkah, kasih sayang dan ampunan.
Bulan Ramadhan.”
“Ramadhan....! Mengaji...ya aku ingat mengaji di surau
itu. Bulan berkah, ya aku ingat di waktu ramadhan lalu.”
“Syukurlah, ingatanmu sudah Tuhan kembalikan.”
“Apa yang aku lakukan di bulan mulia ini?” Ranggona
tertunduk. Ia termenung.
“Besyukurlah, yang terpenting kau sudah ingat pada-Nya.
Sebelum kau kembali ke rumahmu. Masuklah dulu ke rumah-Nya.”
“Siapa namamu, dik?”
“Namaku...Aku lupa. Nnnama bapak siapa?”
“Orang-orang selalu memanggilku Izrail. Akulah malaikat
maut yang menjemputmu.”
“Ma............!!” Ranggona sangat terkejut atas takdir
yang menimpanya. Penyesalan selalu di akhirnya episode langkah hidup. Mengapa
selama ini ia tak mempersiapkan diri untuk yang pasti ini. Seakan ia tak mampu
mengucapkan sepatah kata pun. Mulutnya terkunci. Bibirnya beku. Seluruh tulang
sendinya seakan terpisah dan berserakan. Tubuhnya menggigil.
***
Penulis: Abu Yusuf
SANDAL DARI LANGIT
SANDAL DARI LANGIT
Siang
yang cerah. Langit mesra dengan sang mentari yang begitu memesona menyinari
segenap semesta. Tampak jamaah Masjid Jami’ sudah mulai ke luar. Shalat Juma’at
sudah usai. Hari pertama Ramadhan. Beberapa orang jamaah kelihatan sibuk
mencari sandal mereka masing-masing.
“Sandalku..?”
teriak Irfan yang lagi sibuk mencari sandalnya.
“Ada
apa, dik?” tanya seorang jamaah pada Irfan.
“Ini
Pak, sandal saya tidak ada.”
“Mungkin
di pintu sebelah sana, barang kali ada.”
“Mungkin.” Irfan pun segera ke belakang Masjid
yang masih semak belukar. Ia pun mendapatkan hasil yang sama. Sandalnya lenyap.
Entah di mana. Entah siapa yang mengambilnya. Ia melihat beberapa potongan sandal
bekas yang sudah nampak lusuh. Ia perhatikan, namun ia tidak menemukan sandalnya.
Ia curiga jangan-jangan ada yang mengambil sandal-sandal malang tersebut lalu
mencabik-cabiknya tanpa belas kasihan. Semakin ia perhatikan di dalam
semak-semak, terlihat ekor berwarna hitam. Irfan mengambil sebuah batu lalu
dilemparnya. Terlihat seekor anjing hitam lari ketakutan.
“Pasti
anjing itu yang mengambil sandalku. Awas kalau dapat!” Ia mengikuti si anjing
yang lari seperti ketakutan tersebut. Semakin jauh anjing itu lari ke
semak-semak. Tiba-tiba anjing tersebut menghilang ditelan segerombolan semak.
Ia tidak melihat si anjing tersebut.
“Kludruuuuuuuuuuk.”
“Akkkkkkk,
ikkkkkkkkkkkk.” Irfan memekik. Tubuhnya terpental. Kakinya ke atas. Tubuhnya
begitu berat. Pandangannya kunang-kunang. Gelap. Bertambah gelap. Tubuhnya
terasa lemah. Ia tak sanggup menggerakkan tubuhnya.
“Meau.....meau....”
“Sepertinya
suara kucing. Akhhh..kepalaku..”
“Kalau
berjalan pakai mata!”
“Hhhhaaaa,
siapa itu? Kau seekor kucing, ihh bulumu kotor sekali. Menjijikan.” Ia menatap
seekor kucing yang berbicara padanya. Sesekali ia mengucek matanya. Setengah
tak percaya.
“Hei
manusia sombong, biarlah tubuhku kotor asalkan hatiku tidak.”
“Kucing
kotor, mengapa kau ada di sini?”
“Aku
dari tadi pagi terjebak dalam sumur ini. Kau sendiri, mengapa kau bisa di
sini?”
“Panjang
ceritanya, yang jelas aku harus menangkap anjing kurang hajar itu.”
“Maksudmu
anjing hitam itu?”
“Kau
kenal dengannya?” tanya Irfan penasaran.
“Aku terjebak
karenanya. Kau sendiri apa urusanmu dengannya?”
“Karena
anjing sialan itu melarikan sandalku.” Irfan menjelaskan tentang sadalnya itu
walaupun ia antara percaya dan tidak tentang perihal kucing yang bisa
berbicara.
“Besyukurlah!”
“Apa
maksudmu menyuruhku bersyukur, padahal aku sedang kehilangan sandal kesayanganku.
Tidak....aku tidak mau....”
“Terserah
padamu,” ujar kucing sambil menaikan telinganya karena jengkel melihat ulah
Irfan.
“Apa
kau tahu di mana tempat anjing itu?”
“Aku tahu.
Tapi aku tak bisa mengantarmu. Bagini saja, aku bisa membantumu, kau boleh
meminjam instingku untuk mengejar anjing tersebut.”
Irfan
menerima tawaran si kucing tersebut. Ia bahagia. Kini ia akan dapat menangkap
anjing hitam itu. Namun tiba-tiba ia merasa aneh.
“Kakiku
ada empat? Hhhhahh...kok tubuhku jadi kecil begini, berbulu, aku menjadi seekor
kucing kotor. Oh, tidak..!” Ia baru menyadari bentuk tubuhnya yang berubah. Ia
kini berubah menjadi seekor kucing kecil yang kotor.
“Dasar
kucing sialan, kucing kotor....kembalikan tubuhku..!” teriak Irfan, tapi kini
hanya keluar suara kucing bukan suara manusia. Tanpa ia sadari ia mencium bau
anjing tersebut. Benar insting kucing itu berfungsi. Kini ia hanya ingin
menangkap anjing tersebut. Tapi ketika ia memasang kuda-kuda, malah anjing itu
duluan mengejarnya. Ia baru ingat tubuhnya bukan tubuh manusia lagi. Sekarang
posisinya bukan sebagai pemburu, tapi objek buruan. Akhirnya ia memasang
langkah seribu. Kini giliran anjing hitam itu mengejarnya. Untung ada pohon di
dekatnya. Lalu ia memanjat secara spontan. Ia selamat dari serangan anjing
bringas tersebut.
“Hhuhh....untung
ada pohon,” ujarnya Irfan lega sembari mengusap dadanya.
***
Nyanyian
sekawanan burung di pohon-pohon mahoni siang itu memecahkan suasana. Terik
mentari siang mulai terasa menembus pepohonan di semak belukar itu.
“Kembalikan
tubuhku? Aku sudah tak betah jadi manusia yang rakus.”
“Hahh...hei
kucing kotor, seharusnya aku yang tidak betah dengan tubuh yang kecil dan
menjijikan ini,” ujar Irfan kesal ketika bertemu raganya.
Kucing
itu dan Irfan sepakat bertukar raga. Tanpa ia sadari ia kembali menjadi seperti
semula. Ia meperhatikan tubuhnya. Ia sudah menjadi manusia. Ia masih heran apa
yang sebenarnya terjadi.
“Sekarang,
kita kembali seperti semula. Kau mau ke mana?”
“Aku
mau kembali ke rumah majikanku.”
“Apa
kau tak keberatan jika aku ikut denganmu?” pinta Irfan setengah memaksa.
“Coba
kupikir dulu....aa boleh lah, tapi jangan menyesal.”
“Maksudmu?
Apa majikanmu itu kejam?”
“Tidak,
maksudku...kalau kau tidak jadi bertemu dengannya, yah bisa jadi kau menyesal
seumur hidupmu.” Si kucing berjalan memasuki semak belukar. Irfan juga
mengikuti si kucing tersebut. Sekitar seratus meter mereka menerjang serdadu
semak belukar. Akhirnya sampai di depan pagar sebuah rumah tua seperti tak
berpenghuni.
“Aku
mau pulang saja,” ujar Irfan yang perlahan memutar arah tubuhnya ke belakang.
“Kau
takut? Tak ada yang perlu kau takutkan pada makhluk Tuhan, jika kau hanya takut
pada-Nya semata,” tegas si kucing layaknya seorang yang berceramah.
“Tahu
apa kau tentangng Tuhan. Kucing kok bertuhan!”
“Hei,
memang manusia saja makhluk Tuhan? Kebanyakan manusia itu tidak mengenal Tuhannya.
Sudah masuk saja denganku!”
“Tunggu...itu
siapa yang duduk di kursi di bawah pohon?”
“Ooo..itu
tukang taman majikanku. Silahkan tanya dengannya tentang majikanku. Aku mau
menemui temanku di gudang belakang.” Kucing itu pun pergi meninggalkan Irfan
sendirian di depan pagar rumah tua tersebut.
“Mmmaaf
pak, apa orang yang punya rumah ini ada di dalam?” tanya Irfan gugup. Sepasang
bola mata menatapnya dalam dan bisu. Tukang taman itu hanya diam. Sesekali ia
menundukkan kepalanya dan sesekali ia menatap dalam Irfan. Irfan panik dan
takut. Tapi ia coba menenangkan diri.
“Apa
kau seorang Muslim?” tiba-tiba tukang taman itu balik bertanya.
“Iiiya..Pak.”
“Bagaimana
seorang Muslim kalau bertemu sesama Muslim?”
“Sssaya
kurang tahu, Pak. Soalnya....”
“Masih
muda, tapi belum tahu agama. Apa hajatmu ke sini?”
“Aku
ingin bertemu majikan bapak.”
“Untuk
apa bertemu beliau?”
“Aku
ingin menanyakan perihal anjing hitam yang mencuri sandal saya di Masjid?”
“Kau
kehilangan sandalmu? Kau beruntung!”
“Lhohh..bapak
jangan mengejek saya, jelas-jelas saya kehilangan sandal kesayangan saya. Sandal
itu saya beli jauh sekali, di Jawa sana.”
“Kau
lihat lengan kiri saya. Seminggu yang lalu saya kehilangan tangan saya dalam
sebuah kecelakaan.”
“Yah,
apa urusannya denga saya, kan yang hilang tangan bapak,” ujarnya tanpa rasa
bersalah dan prihatin.
“Jadi
kau benar-benar mau bertemu dengan majikan saya?”
“Yah,
ngapain saya jauh-jauh menerobos semak belukar ke sini. Di mana majikan bapak?”
“Kalau
begitu, silahkan masuk ke ruang sebelah kiri. Majikan saya sedang duduk di
kursi goyang.” Tukang taman itu mengantarkan menuju sebuah ruangan yang sudah
tua. Terlihat papan sebagai dindingnya sudah menjadi langganan rayap. Ada dua
kursi tua. Satu kursi goyang dan satu meja tua. Terlihat seorang lelaki tua
yang berambut serba putih dari belakang yang sedang menikmati goyongan kursi
tersebut.
“Tok..tok....”
“Mmaaf
Pak, apa boleh saya masuk?”
“Ehem...siapa
kamu? Apa kamu seorang Muslim?”
“Sssaya
Irfan Pak. Ssaya Muslim.”
“Biasanya
apa yang diucapkan seorang Muslim ketika masuk rumah?”
“Ssaya
tidak tahu Pak. Saya tidak pernah belajar agama Pak.”
“Hmm...silahkan
duduk. Apa hajatmu ke sini anak muda?”
“Saya
ingin sandal saya yang hilang dikembalikan Pak. Anjing hitam bapak melarikan sandal
saya di Masjid?” Suasan jadi hening. Bapak tua itu merubah posisinya ke arah
Irfan. Ia menatap Irfan dalam.
“Apa
benar anjing hitam itu yang melarikannya?”
“Ya
Pak, saya lihat di dekat anjing itu banyak sandal bekas gigitan.”
“Anjing
hitam itu bukan milik saya, tapi milik Tuhan saya. Dia yang menciptakannya.
Jadi kamu mintak saja sama Tuhan saya gantinya!”
“Bagaimana
caranya saya bisa bertemu Tuhan?”
“Sebenarnya
sangat bisa, tapi...kalau boleh saya bertanya, seberapa pentingkah sandal itu
bagimu hingga kamu mau bertemu Tuhan karenanya?”
“Sandal
itu adalah sandal kesayangan saya. Saya rela melakukan apa pun untuk
mendapatkannya lagi. Saya tak bisa berlebaran tanpa sandal itu.”
“Bersyukurlah,
nak!” ujar bapak tua itu sambil menggoyangkan kursi.
“Bapak
jangan mengajari saya. Sudah jelas saya rugi dan kehilangan sandal kesayangan
saya, eh malah disuruh bersyukur. Apanya yang disyukuri?”
“Kamu masih punya kaki kan?”
“Ohh jelas toh Pak, utuh.”
“Mana
kamu pilih, hilang kaki atau hilang sandal?”
“Ahh..bapak
jangan bercanda. Sudah jelas kaki dong, eh sandal. Kaki atau sandal ya?” Irfan
malah kebingungan antara sandal atau kaki. Sementara ia datang mencari sandal.
“Kalau
kamu punya kaki, sudah seberapa sering kamu melangkah ke Masjid? Banyak
melangkah ke mana kakimu, ke tempat Tuhan atau ke tempat syetan?”
“Sssaayy...saya
baru sekali ke Masjid Pak, selebihnya ke mall dan diskotik!”
“Nak,
coba lihat ke bawah.” Bapak tua itu menarik kain sarungnya ke atas. Ternyata
bapak tua itu tidak memiliki kaki. Kedua kakinya putus.
“Kkke
mana kaki bapak, hilang juga?”
“Kamu
baru kehilangan sandal saja sudah sangat gaduh, bagaimana jika kakimu itu yang
hilang? Kamu tidak dapat ke mana-mana. Apa kamu masih mau bertemu Tuhan
menanyakan sandalmu?”
“Iiiiya
Pak.”
“Bagaimana
mungkin kamu bisa bertemu Tuhan sementara kakimu selama ini tidak kamu bawa
melangkah untuk menemui-Nya? Apakah sekarang kamu tetap akan menuntut kembali
sandalmu yang ditakdirkan hilang, sementara kakimu ada saja kamu tidak bersyukur?”
“Ak........!!”
suasan hening. Sepertinya Ia tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun
mendengar ucapan bapak itu. Tiba-tiba ia mendengar suara brisik.
“Dik...dik...bangun.”
“Akkk....sssiapa
iiitu?”
“Dik,
mengapa kamu berada di dalam sumur tua ini? Sini bapak bantu, segera keluar
dari sana,” ujar seorang bapak yang berambut putih dari atas sumur tua itu.
Dengan bantuan bapak tua itu akhirnya Irfan keluar dari sumur itu.
“Baaaapak...yang
tadi di rumah tua itu?”
“Rumah
itu memang rumah saya, tapi sudah saya jual.”
“Tidak...saya
tidak bermimpi, di mana kucing dan tukang taman bapak?” Irfan masih mengucek
matanya. Ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Mengapa ia berada di
sumur tua itu, kemudian bertemu kucing yang bisa berbicara dan mengantarkannya
ke rumah tua itu.
“Kucing
dan tukang taman sudah kembali ke asalnya?”
“Asalnya?
Mmaksud bapak?”
“Mereka
adalah para malaikat Tuhan serta sandal itu dari langit sebagai asbab yang
mengujimu dan saya malaikat maut yang datang memutus duniamu.”
“.............!!”
Mulut Irfan terkuci. Tubuhnya lemas. Seolah tubuh dan tulang-tulangnya terpisah.
Seluruh tubuhnya menggigil. Deras keringat membasahi sekujur tubuhnya. Semua
penyesalan menyatu. Waktu tidak bisa kembali ke belakang barang sesaat sekedar
mengucapkan maaf dan selamat tinggal kepada keluarga. Waktu tidak bisa mundur
sekedar belajar sujud dan senantiasa melangkahkan kaki ke rumah Allah.
***
Oleh: Abu Abdur
Langganan:
Postingan (Atom)

