Al kisah ...seorang pemuda yang dibesarkan dengan belaian kasih ibu
tercintanya. Setelah beranjak usia produktif, muncul keinginan besar
dari pemuda tersebut ingin mandiri dan membahagiakan ibunya. Wal hasil..
dengan kerelaan yang berat, sang ibu merelakan anaknya merantau ke
negeri seberang yang konon perekonomiannya jauh di atas bangsa ini, apa
lagi dibandingkan dengan ekonomi di kampungnya.
Seiring waktu dan secara bertahap sang anak mengalami kesuksesan di rantau, kesuksesan yang disertai dengan kesibukan yang seimbang. Gajinya yang tergolong besar bahkan sangat besar jika dibanding dengan pembesar yang ada di negeri ini memang layak diterima sang anak jika dilihat dengan aktivitas dan kesibukannya.
Seiring waktu dan secara bertahap sang anak mengalami kesuksesan di rantau, kesuksesan yang disertai dengan kesibukan yang seimbang. Gajinya yang tergolong besar bahkan sangat besar jika dibanding dengan pembesar yang ada di negeri ini memang layak diterima sang anak jika dilihat dengan aktivitas dan kesibukannya.
Keinginan untuk membahagikan ibunya di kampung tetap merupakan skala prioritasnya. Hampir tiap bulan sang anak memberi ibunya uang yang nilainya sangat besar. Sang ibu membuat kantong dari kain, setiap kali sang ibu mendapatkan uang kiriman anaknya, sang ibu menyimpannya di kantong kain tersebut.
Waktu terus berlalu.., sudah bertahun tahun sang anak tidak pulang. Uang kiriman sang anak sudah memenuhi isi kantong kain milik ibunya, tidak terhitung lagi jumlah bersihnya. yang jelas jumlahnya jauuuh melebihi gaji sang anak untuk tiap bulannya.
Pagi hari raya pun tiba...ini adalah pagi hari raya ke 5 kalinya sang anak tidak pulang ke kampung halamannya. Sang ibu duduk sendirian di kursi santainya, secarik kertas yang bertuliskan sederet nomor terlihat erat digenggaman sang ibu, beberapa kali dibacanya, kemudian digenggamnya kembali. Dengan bantuan seseorang di kampungnya, sang ibu meminta untuk dapat berbicara kepada anaknya lewat beberapa digit nomor yang tercantum di kertas lusuh akibat eratnya genggaman.
Jauh di rantau sana, terdengar dering telpon selluler milik sang anak. Terlihat di layar handphone beberapa digit nomor yang tidak dikenal. Komunikasi pun tersambungkan.. "Siapa ini..??" kata anaknya. "Ini ibumu mau bicara," jawaban dari seseorang yang membantu ibunya tersebut yang sejurus kemudian memberikan ganggang telpon ke ibu pemuda tersebut. Ganggang telpon sudah di tangan sang ibu, untuk beberapa saat tidak ada kata yang bisa diucapkan sang ibu. Akhirnya hanya sebait kalimat saja yang keluar dari mulut sang ibu saat itu. "Bisa kau pulang walau untuk satu hari, Nak??". Sejurus kemudian sang ibu langsung meletakkan ganggang telpon ke dudukannya semula, bersamaan dengan itu dari handphone sang anak langsung terdengar nada bit berulang-ulang yang menunjukkan putusnya komunikasi.
Sang anak sudah tidak bisa konsentrasi lagi saat itu, naluri sebagai seorang anak mencuat, sosok sang ibu langsung terlintas ditiap butiran darah yang mengaliri otaknya, otaknya benar-benar buntu untuk memikirkan apapun, yang ada dalam isi otaknya adalah "pulang dengan amat sangat segera." Tanpa persiapan dan perencanaan apapun, sang anak membatalkan apapun yang menjadi agendanya hari itu. Dirinya segera menuju arah bandara dan menaiki pesawat yang paling cepat keberangkatannya hari itu menuju ibu kota provinsi di mana kampungnya berada. Dari ibu kota provinsi tersebut sang anak harus menaiki bus beberapa jam untuk sampai ke kampung halamannya.
Tiba di kampung....
Lama sang anak berdiri di depan halaman rumah. Sebuah rumah yang sudah lama ia tinggalkan dan terlihat sepi. Air matanya mengalir sebelum sosok ibunya terlihat olehnya, sang ibu yang sudah bertahun tahun ia tinggalkan. Sang ibu masih berada di kursi santainya, tidak ada kata-kata yang terlontar ketika itu melainkan hanya sembah sujud yang disertai isak tangis dan air mata sang anak. Sementara sang ibu belum menampakkan reaksi apapun, belum terlihat butiran air mata yang merembes di pelupuk matanya. Sikapnya masih sulit untuk ditebak ketika itu.
Beberapa menit kemudian...
Situasi pun mereda, suasana sudah mulai sedikit kondusif untuk berbicara. Segala gejolak emosi yang tadinya tertahankan dan mendesak di dada telah mulai mencair dan keluar beserta deraian air mata sang anak. Mereka berdua kemudian duduk di lantai dengan alas sebuah tikar pandan. Terlihat beberapa potong kue hari raya dan gelas minuman menghiasi jarak antara mereka berdua.
"Berapa gaji kau sebulan nak..??" Ibunya memulai pertanyaan. “Kalau dihitung dengan mata uang kita sekitar 50 juta.” Jawab sang anak.
Kemudian sang ibu beranjak dari tempat duduknya, menuju ke kamarnya dan mengambil sebuah kantong kain yang berisi penuh dengan uang kiriman anaknya. Kemudian sang ibu duduk kembali di tempat duduknya semula yang berada tepat di depan anaknya. Kemudian ibunya berkata :
“Sekarang dengarkan ibu, nak.” Ibunya berkata dengan suara yang berat.
“Ibu mohon kepadamu untuk satu kali ini saja…” terdengar suara ibunya yang semakin berat, dan kemudian terlihat butiran air mata yang mulai merembes d ipelupuk mata ibunya. “Engkau duduk di sini selama 1 jam saja bersama ibu, dan ibu bayar waktumu ini dengan semua uang ini.”
***SELESAI****
(A Story by Icun Abra bin Abdullah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar