Sabtu, 15 November 2014

LUASKAN HATIMU


Suatu ketika dikisahkan, hiduplah seorang guru yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang muridnya yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air mukanya ruwet. Muridnya itu, memang seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, ia menceritakan semua masalahnya.
Guru yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta  muridnya yang masih muda itu mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba minum ini, dan katakan bagaimana rasanya dengan perasaanmu (hati)..,” ujar Guru bijak itu.
“Pahit. Pahit sekali,” jawab muridnya, sambil meludah kesamping. Guru bijak itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak muridnya ini untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya.
Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Guru bijak itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-ngaduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan air itu.
“Coba ambil air telaga ini, dan minumlah.“ Saat muridnya itu selesai menegukkan air itu,gurunya berkata lagi, “Bagaimana rasanya?” “Segar,” sahut muridnya. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu? Tanya gurunya lagi. “Tidak,” jawab si murid. Dengan bijak, guru itu menepuk-nepuk punggung si muridnya.
Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Muridku, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.”
“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan hidup, hanya satu hal yang  bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskan hatimu untuk menampung semua kepahitan itu.”
Guru bijak itu kembali memberikan nasihat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu, adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan membuatnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan. Kemudian isilah ia dengan hal yang bersih ; zikir, membaca Al-Qur’an, mendekatkan diri kepada Allah dan amalan lainnya dan buanglah atau bersihkan segala kotoran yang ada dalam wadah tersebut dengan taubat.”
Sari hikmah :
-Saudarku, selama hati kita hilang (tidak bersih, kotor), selama itulah kesusahan, keresahan dan kesempitan akan kita rasakan. Pada dasarnya, saat itu fungsi hati kita hilang untuk bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah bahkan tidak bisa merasakan kesegaran kebenaran sejati dan kebahagiaan hakiki itu.
Dan, pada saat itu pula seolah-olah kita berjalan, tapi tidak memiliki arah tujuan yang jelas, semua terasa gelap (itulah yang dialami sang murid tersebut, ia hampir putus asa dan bunuh diri). Karena hati kita adalah raja, pemimpin dalam perjalan ini, jika hati atau rajanya tidak tahu arah, maka tentulah pengikutnya tersesat.
Maka untuk mendapatkan kembali kelapangan hidup, kebahagiaan tersebut, kita harus memiliki hati yang bersih dan tidak hilang fungsinya. Oleh sebab itu, kita harus meluaskan hati kita (seperti telaga) dan mengisinya dengan hal yang baik-baik.
Ibarat telaga yang luas, jernih dan segar, maka buatlah hati kita seperti itu, isilah dengan selalu beribadah, berzikir, beristighfar kepada Allah agar kita diberikan hati yang bening dan lapang (segar). 
-Saudaraku, tidak ada jalan tol lain untuk meraih kelapangan hati kecuali kembali kepada Allah (bertaubat) dan selalu mengingatnya (berzikir). Itulah cara membersihkan hati dan melapangkannya. Jika kita tidak mengusahakan (mujahadah) hal tersebut, maka hati kita ibarat gelas yang diisi dengan garam, semuanya terasa pahit dan tidak ada manusia yang mau selalu dalam kepahitan.
Muhasabah :
Wahai diriku, wahai saudaraku, masihkah kita memiliki hati di dalam jasad ini? Ataukah hati kita telah lama hilangnya? Kemanakah selama ini hati kita? Jika mungkin hati kita hilang, maka ibaratnya kita seperti mayat berjalan (tidak bermanfaat).
Apakah hati kita sangat kotor dan hitam sehingga kita jauh dari Allah? Sadarilah wahai diriku, saudaraku, Allah hanya melihat niat di hati kita, tapi jika hati kita kotor dan hilang selama ini, lalu apa yang bisa dinilai dari semua itu? Masihkah kita bisa tersenyum padahal tidak punya hati lagi? Masihkah kita bersenda gurau padahal dosa-dosa kita munggunung tinggi?
Wahai diriku, saudaraku, apakah ada sesuatu yang lebih menyedihkan dalam hidup ini selain hidup dalam lembah dosa? Adakah musibah yang besar selain seseorang tetap dalam dosa-dosanya karena kelalaian dan kehilangan hati? Sedikit dari kita yang menyadari bahwa dosa itu musibah.
Adakah di antara kita yang mau setiap detik dirundung musibah? Jika tidak, maka rendahkanlah diri ini, akuilah segala khilaf dan dosa kita pada-Nya. Kita sendiri saja sangat malu pada diri kita, apalagi dosa itu dilihat oleh yanga Maha Melihat?
 Saudaraku, sudah berapa kalikah dosa ini terjadi? Pernahkah kita membayangkah jika dosa yang kita lakukan selama ini dibuka-Nya dan semua manusia mengetahuinya? Sungguh, betapa malunya diri ini.
Tapi tahukah kita, Allah dengan segala Kebesarannya tetap mau mengampuni kita, terkadang kenyataannya lebih mudah mendapatkan ampunan-Nya dari pada sesama manusia.
Namun, saudaraku, jika kita masih punya hati, takkan mungkin rasanya kita akan menyakti apa yang kita cintai, yaitu Rabb semesta alam, Allah Azza wa Jalla. Takut rasanya jika kematian menghampiri dengan tiba-tiba sedangkan kita belum sempat mengucap maaf dan ampun pada-Nya...
Ya Allah, maafkan kami, jika hati kami hitam dan buta untuk melihat kebenaran-Mu, kami selalu zalim, kami selalu melanggar perintah-Mu dan bermaksiat. Ada di antara kami yang tidak malu melakukan kejahatan di depan-Mu; durhaka kepada orang tua, merampas hak orang lain, melakukan hubungan yang Engkau murkai (zina).
Kasihanilah kami, berilah kami hati yang selamat, hati yang hanya menuju pada-Mu dan hati yang lapang dan bersih. Tanpa hati itu dan ampunan-Mu, maka kami tidak ada yang selamat dari siksa-Mu apalagi menempati surga-Mu, maka dari itu ijabahlah do’a kami ya Ghafar. Amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar