Rabu, 26 November 2014

Memuliakan Buku



Seorang teman bercerita, bahwa ketika prosesi pernikahannya berlangsung ia mesti mengucapkan akad nikahnya hingga sepuluh kali. Di antara penyebabnya karena akad nikah tersebut mesti diucapkan dalam satu nafas dengan menyertakan penyebutan mahar dari mempelai laki-laki pada calon istrinya. Dan maharnya kala itu adalah beberapa jilid kitab tafsir Fi Zilalil Quran. Dia bisa saja menjawab dengan lancar, namun dengan nama kitab tersebut yang panjang ditambah lagi kata ‘beberapa jilid’ tersebut sungguh tidak akrab di bibir calon mertuanya.

Teman tersebut menceritakan masa lalunya itu sambil tertawa, lucu sepertinya mengingat kejadian kala itu, karena orang-orang tidak sampai sebegitu lama prosesnya. Tapi di balik itu semua saya menangkap nilai diferensiasi maharnya tersebut dibandingkan mas kawin yang berbentuk emas, seperangkat alat shalat dan lain sebagainya. Dan nilai besar itu adalah buku.

Jauh sebelum itu, lebih dari setengah abad yang silam bung Hatta lebih dahulu telah mempraktekkan pernikahan dengan mas kawinnya berupa buku tersebut. Alam Pikiran Yunani, inilah buku yang diserahkan oleh bung Hatta pada Rachmi Rachim sebagai maskawinnya 8 November 1945. Ibunya kala itu menawarkan uang Ringgit emas sebagai mas kawinnya, namun tawaran itu ia tepis, karena menurutnya mas kawin itu adalah sesuatu yang khusus, apalagi buku tersebut ia tulis sendiri.

Sudah saatnya buku menempati ruang istimewa di rumah dan di hati bangsa ini. Kebodohan yang membelenggu kita tidak cukup diusir dengan hanya menjalani pendidikan formal yang kadangkala tidak berhasil menumbuhkan kecintaan pada buku-buku. Padahal kalau kita ingin melihat orang yang kepalanya terbuka, lihatlah sejauh apa dia mengepit buku di hari-harinya. Kalau kita ingin melihat keluarga yang memuliakan intelektual, lihat di rumahnya yang buku bergeletakan di tempat-tempat yang mudai diambil. Dan kalau kita ingin melihat masyarakat atau sebuah bangsa yang peradabannya jauh di depan, lihatlah perpustakaan-perpustakaannya yang mudah di temukan.

Kita patut belajar pada seorang Luis Soriano Bohorquez, seorang guruElementary School yang membawa buku-buku berkeliling desa dengan ditemani dua ekor Keledainya di pedalaman Karibia, Kolombia Utara. Setiap akhir pekan ia hadir di tengah-tengah masyarakat miskin La Gloria.

Di negeri ini kita jumpai Djudju Djunaedi atau Mbah Udju, pustakawan kampung yang berjalanan kaki ke kampung-kampung di Purwakarta hanya sekedar untuk meminjamkan buku-bukunya. Atau seorang Kiswanti, seorang ibu rumah tangga yang hanya tamat SD bersepeda keliling setiap harinya hanya untuk menawarkan buku supaya dibaca masyarakat. Ia bahkan pernah menjadi pembantu, namun setiap terima gaji bukulah yang dibelinya. 

Wamdi Jihadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar