Rabu, 26 November 2014

Orang Penting

Saya termasuk orang yang tidak cepat mengagumi orang-orang baru, apakah baru muncul ke publik atau baru datang ke kediaman kita – rumah, organisasi, lembaga – yang ia berasal dari tempat yang jauh. Ia mungkin menyampaikan presentasi yang luar biasa, mendedahkan pengetahuannya yang luas, atau berbagai informasi yang sangat kita butuhkan. Tapi harap dicatat, tidak cepat mengagumi bukan berarti tidak menghormati. Dan tidak cepat mengagumi juga bukan berarti tidak pernah tidak mengagumi.

Boleh dikatakan setiap hari kita bertemu dengan keluarga, apakah itu istri, anak, orang tua, kakak atau adik. Hampir setiap hari kita bertemu teman-teman, di sekolah, kampus, atau di tempat kerja. Dan di sepanjang tahun juga kita berinteraksi dengan tetangga, atasan, bawahan, perangkat Kelurahan, penjual, peminta-minta atau masyarakat umum lainnya.

Semakin dekat radius orang tersebut dengan kita semakin banyak kita berinteraksi dengannya, semakin tahu kita tentang dirinya, dan begitu pun sebaliknya. Di antara mereka adalah orang-orang yang yang menguatkan di saat kita lemah, yang mendorong di saat kita ingin berhenti, yang menunggui atau menjenguk di saat kita sakit, dan yang menyebut nama-nama kita di dalam doa-doanya.

Karakter, inilah yang terbaca pada orang-orang yang hidupnya berada di sekitaran kita. Kehidupan mereka di mata kita atau kehidupan kita di mata mereka seperti panggung pengujian karakter. Dan sudah saatnya kita tidak lagi melekatkan kekaguman pada seseorang hanya karena usianya yang lebih tua, pendidikannya yang lebih tinggi, atau pengalamannya yang lebih banyak. Tetapi kekaguman itu kita sematkan karena memang karakter baiknya teruji.

Dan sebab karakter yang belum teruji itulah kekaguman belum pantas kita berikan pada orang-orang yang baru hadir dalam hidup kita. Ia mungkin bisa membeberkan berbagai teori tetapi tetap saja berkabut di mata.

Berbeda dengan orang-orang besar yang telah mendahului kehidupan kita, kita bisa melacak perjalanan hidup mereka lewat buku-buku atau dari cerita mulut ke mulut. dari sana kita tahu sepak terjangnya, interaksinya dengan manusia di sepanjang batang usianya, dan bahkan ending dari kehidupannya.

Maka bersungguh-sungguhlah kita memperbaiki interaksi kita, khususnya dengan orang-orang yang sepanjang usia kita tak terpisah darinya, tak tercerabut dari lingkungannya. Kagumilah mereka itu yang bersedia menemani kita, menghabiskan jatah umurnya bersama kita, dan bergaul di sepanjang waktu. 

“Siapa orang paling penting untuk bisa diajak bekerja sama?” tanya seorang raja pada seorang biksu, seperti diceritakan Thich Nhat Hanh dalam bukunya the Miracle of Mindfulness. Biksu itu kemudian menyampaikan, “Orang yang paling penting adalah orang terdekat.”

Wamdi Jihadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar