Saya
termasuk orang yang tidak cepat mengagumi orang-orang baru, apakah baru
muncul ke publik atau baru datang ke kediaman kita – rumah, organisasi,
lembaga – yang ia berasal dari tempat yang jauh. Ia mungkin
menyampaikan presentasi yang luar biasa, mendedahkan pengetahuannya yang
luas, atau berbagai informasi yang sangat kita butuhkan. Tapi harap dicatat,
tidak cepat mengagumi bukan berarti tidak menghormati. Dan tidak cepat
mengagumi juga bukan berarti tidak pernah tidak mengagumi.
Boleh
dikatakan setiap hari kita bertemu dengan keluarga, apakah itu istri,
anak, orang tua, kakak atau adik. Hampir setiap hari kita bertemu
teman-teman, di sekolah, kampus, atau di tempat kerja. Dan di sepanjang
tahun juga kita berinteraksi dengan tetangga, atasan, bawahan, perangkat
Kelurahan, penjual, peminta-minta atau masyarakat umum lainnya.
Semakin
dekat radius orang tersebut dengan kita semakin banyak kita
berinteraksi dengannya, semakin tahu kita tentang dirinya, dan begitu
pun sebaliknya. Di antara mereka adalah orang-orang yang yang menguatkan
di saat kita lemah, yang mendorong di saat kita ingin berhenti, yang
menunggui atau menjenguk di saat kita sakit, dan yang menyebut nama-nama
kita di dalam doa-doanya.
Karakter, inilah yang terbaca
pada orang-orang yang hidupnya berada di sekitaran kita. Kehidupan
mereka di mata kita atau kehidupan kita di mata mereka seperti panggung
pengujian karakter. Dan sudah saatnya kita tidak lagi melekatkan
kekaguman pada seseorang hanya karena usianya yang lebih tua,
pendidikannya yang lebih tinggi, atau pengalamannya yang lebih banyak.
Tetapi kekaguman itu kita sematkan karena memang karakter baiknya
teruji.
Dan sebab karakter yang belum teruji itulah
kekaguman belum pantas kita berikan pada orang-orang yang baru hadir
dalam hidup kita. Ia mungkin bisa membeberkan berbagai teori tetapi
tetap saja berkabut di mata.
Berbeda dengan orang-orang
besar yang telah mendahului kehidupan kita, kita bisa melacak perjalanan
hidup mereka lewat buku-buku atau dari cerita mulut ke mulut. dari sana
kita tahu sepak terjangnya, interaksinya dengan manusia di sepanjang
batang usianya, dan bahkan ending dari kehidupannya.
Maka
bersungguh-sungguhlah kita memperbaiki interaksi kita, khususnya dengan
orang-orang yang sepanjang usia kita tak terpisah darinya, tak
tercerabut dari lingkungannya. Kagumilah mereka itu yang bersedia
menemani kita, menghabiskan jatah umurnya bersama kita, dan bergaul di
sepanjang waktu.
“Siapa orang paling penting untuk bisa
diajak bekerja sama?” tanya seorang raja pada seorang biksu, seperti
diceritakan Thich Nhat Hanh dalam bukunya the Miracle of Mindfulness. Biksu itu kemudian menyampaikan, “Orang yang paling penting adalah orang terdekat.”
Wamdi Jihadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar