Buya
Hamka pun memutuskan untuk pergi ke Mekah tanpa sepengetahuan ayahnya
Haji Rasul. Tak lain tak bukan tujuannya selain ingin mempelajari dan
mendalami bahasa Arab, sisi yang selama ini menjadi cemoohan padanya
karena penguasaannya yang masih dangkal terhadap bahasa Quran tersebut.
“Tak cukup hanya hebat berceramah,” demikian suara miring yang berkembang di tengah masyarakat, seperti yang diulas kembali oleh anaknya Irfan Hamka dalam bukunya ‘Ayah’.
Di hari-hari ini kita betul-butul sudah menghuni a small village
(sebuah kampung kecil). Tidak ada jarak yang bisa menghalangi interaksi
manusia yang menetap di satu sudut dunia dengan manusia yang berada di
belahan dunia lainnya. Seperdetik pesan bisa tersampaikan dan terbaca,
dan kemudian dengan lelucon yang sama mereka juga bisa tertawa pada
waktu bersamaan. Namun, ada satu batu sandungannya yaitu bahasa, bila
ilmu tentang sebuah bahasa adalah skill, maka sekedar
penguasaan bahasa untuk komunikasi adalah kebutuhan. Logika singkatnya,
seseorang akan diketahui luas pergaulannya lewat bahasa yang ia kuasai.
Karena lazimnya seseorang hanya akan intens berkomunikasi dengan orang
yang memiliki kesamaan penguasaan bahasa.
Bagi para ulama –
juga para calon ulama – penguasaan bahasa Arab tentunya tidak bisa
ditampik lagi. Alasan utamanya karena panduan utama agamanya ini berasal
dari bahasa yang satu ini, baik Quran maupun Hadits. Kita mungkin akan
terkejut mengetahui apa yang dilakukan oleh Snouck Hurgronje seorang
orientalis – lulusan teologi di Universitas Lieden – yang berpura-pura
sebagai muallaf dan pergi ke Mekah belajar bahasa Arab selama tujuh
bulan di sana untuk kemudian penguasaannya terhadap bahasa dan Islam
tersebut digunakan untuk mengotak atik agama ini.
Bagi
pemuka agama juga, bahwa mereka dalam setiap bahasan tidak akan pernah
sampai pada inti persoalan tanpa penguasaan bahasa Arab yang baik.
Seorang yang membahas Tafsir dengan kemampuan bahasa Arab yang rendah
hanya akan berputar-putar di kulit pengkajian saja. Demikian pula dengan
bahasan-bahasan yang lainnya, serupa Fiqih, Sejarah.
Pada
dimensi yang lain agama menekankan kepada kita untuk bersungguh-sungguh
mempelajari bahasa Arab, sebab sesungguhnya ia bukan saja bahasa
orang-orang yang tinggal di Arab sana, namun bahasa semua orang yang
menganut agama Islam itu sendiri. Di seluruh aktivitas ritual agama ini
tidak pernah sepi dari bacaan-bacaan dengan menggunakan bahasa tersebut,
seperti ayat-ayat dan doa-doa.
Maka penguasaan bahasa –
khususnya bahasa Arab dengan ilmu-ilmu bahasanya – dalam kerangka
penguasaan teks adalah keharusan bagi kita semua selaku Muslim. Apalagi
bagi orang-orang yang telah didahulukan selangkah dalam
penerangan-penerangan agama ini, agar apa yang disampaikan tersebut
tidak pincang, seperti orang yang berjalan dengan kaki hanya diinjakkan
sebelah. Dan dalam hal ini berbagai terjemahan buku-buku Arab ke dalam
bahasa kita tidak bisa menjawab seratus persen dari substansi persoalan.
Karena dalam bahasa Arab ada yang disebut dangan Dzauq (rasa), dan rasa itu hanya bisa dikecap dengan penguasaan bahasa yang mendalam (fahman daqiqan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar