Jumat, 21 November 2014

Penguasaan Teks

Buya Hamka pun memutuskan untuk pergi ke Mekah tanpa sepengetahuan ayahnya Haji Rasul. Tak lain tak bukan tujuannya selain ingin mempelajari dan mendalami bahasa Arab, sisi yang selama ini menjadi cemoohan padanya karena penguasaannya yang masih dangkal terhadap bahasa Quran tersebut. “Tak cukup hanya hebat berceramah,” demikian suara miring yang berkembang di tengah masyarakat, seperti yang diulas kembali oleh anaknya Irfan Hamka dalam bukunya ‘Ayah’.

Di hari-hari ini kita betul-butul sudah menghuni a small village (sebuah kampung kecil). Tidak ada jarak yang bisa menghalangi interaksi manusia yang menetap di satu sudut dunia dengan manusia yang berada di belahan dunia lainnya. Seperdetik pesan bisa tersampaikan dan terbaca, dan kemudian dengan lelucon yang sama mereka juga bisa tertawa pada waktu bersamaan. Namun, ada satu batu sandungannya yaitu bahasa, bila ilmu tentang sebuah bahasa adalah skill, maka sekedar penguasaan bahasa untuk komunikasi adalah kebutuhan. Logika singkatnya, seseorang akan diketahui luas pergaulannya lewat bahasa yang ia kuasai. Karena lazimnya seseorang hanya akan intens berkomunikasi dengan orang yang memiliki kesamaan penguasaan bahasa.

Bagi para ulama – juga para calon ulama – penguasaan bahasa Arab tentunya tidak bisa ditampik lagi. Alasan utamanya karena panduan utama agamanya ini berasal dari bahasa yang satu ini, baik Quran maupun Hadits. Kita mungkin akan terkejut mengetahui apa yang dilakukan oleh Snouck Hurgronje seorang orientalis – lulusan teologi di Universitas Lieden – yang berpura-pura sebagai muallaf dan pergi ke Mekah belajar bahasa Arab selama tujuh bulan di sana untuk kemudian penguasaannya terhadap bahasa dan Islam tersebut digunakan untuk mengotak atik agama ini.

Bagi pemuka agama juga, bahwa mereka dalam setiap bahasan tidak akan pernah sampai pada inti persoalan tanpa penguasaan bahasa Arab yang baik. Seorang yang membahas Tafsir dengan kemampuan bahasa Arab yang rendah hanya akan berputar-putar di kulit pengkajian saja. Demikian pula dengan bahasan-bahasan yang lainnya, serupa Fiqih, Sejarah.

Pada dimensi yang lain agama menekankan kepada kita untuk bersungguh-sungguh mempelajari bahasa Arab, sebab sesungguhnya ia bukan saja bahasa orang-orang yang tinggal di Arab sana, namun bahasa semua orang yang menganut agama Islam itu sendiri. Di seluruh aktivitas ritual agama ini tidak pernah sepi dari bacaan-bacaan dengan menggunakan bahasa tersebut, seperti ayat-ayat dan doa-doa.

Maka penguasaan bahasa – khususnya bahasa Arab dengan ilmu-ilmu bahasanya – dalam kerangka penguasaan teks adalah keharusan bagi kita semua selaku Muslim. Apalagi bagi orang-orang yang telah didahulukan selangkah dalam penerangan-penerangan agama ini, agar apa yang disampaikan tersebut tidak pincang, seperti orang yang berjalan dengan kaki hanya diinjakkan sebelah. Dan dalam hal ini berbagai terjemahan buku-buku Arab ke dalam bahasa kita tidak bisa menjawab seratus persen dari substansi persoalan. Karena dalam bahasa Arab ada yang disebut dangan Dzauq (rasa), dan rasa itu hanya bisa dikecap dengan penguasaan bahasa yang mendalam (fahman daqiqan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar