LUPA
![]() |
| photo by wikipedia |
Hembusan angin senja menyapa semesta. Bumi
Melayu kembali dicumbui oleh udara panas yang menjilat-jilat aspal, serasa
panas mendidih keluar dari perut bumi, panasnya memuncak ke ubun-ubun. Di jalan
raya kendaraan dan orang-orang ramai berlalu-lalang, hilir-mudik seperti aliran
sungai Siak. Agaknya panas hari ini menandakan alam Melayu yang kaya akan
tambang minyak bumi. Makanya panasnya menebar di seluruh sudut-sudut, serta
jantung kota Pekanbaru yang juga dikenal dengan nama kota Bertuah. Akan tetapi
panasnya belum seberapa dibandingkan panas masyarakat Melayu yang antri membeli
BBM, dan kadang-kadang keburu habis, walau kabarnya minyak di atas, minyak di
bawah. Tampak seorang remaja dengan wajah pucat memasuki gang-gang kecil di pinggiran
sungai Siak. Jalannya sempoyongan memasuki sebuah pagar rumah berwarna kuning.
“Treeeeeeeeeeeeeeeeng.”
“Oh, Tuhan! Apa yang terjadi dengan anakku!”
Bu Sri membalikkan tubuh anaknya yang tergeletak di depan
pintu. Perlahan ia tatap anaknya yang separuh sadar. Dengan air mata yang deras
mengaliri pipinya. Dia membangunkan anaknya dari tumpukan serpihan-serpihan
kaca jendela.
“Pergi kau, jangan injakkan kakimu di rumah ini.” Tiba-tiba
suara bapaknya dengan amat murka seperti guntur.
“Pak, sudah Pak.” Ibu Sri mencoba menenangkan suaminya.
“Mungkin kau akan sadar jika kau lupa dengan rumah ini,”
bentak bapaknya.
“Sudah Pak, ia lagi terluka.”
“Biar ia rasakan. Apa ia tidak tahu hari apa sekarang.
Hari pertama Ramadhan malah berbuat maksiat. Memalukan keluarga. Untuk apa saya
sekolahkan jauh-jauh kalau begini jadinya.”
“Ranggona, kau dengar Ibu nak, jangan pergi.”
“Bapak benar Bu, aku harus melupakan rumah ini.”
Ranggona berdiri. Ia melangkah keluar pagar rumah. Ibunya
dengan air mata berlinang mencoba menahannya. Tapi keputusannya sudah bulat. Ia
harus pergi meninggalkan rumahnya. Entah ke mana. Mengikuti langkah dan para
serdadu debu jalanan. Dengan jalan yang sempoyongan. Sesekali kakinya
tersandung batu. Jatuh. Berdiri dengan tertatih-tatih. Mentari senja mulai
menguning. Sekawanan burung mulai mencari sarangnya. Kepingan-kepingan awan
seperti menikmati bulan madu untuk menghitamkan langit senja bumi Lancang
Kuning kota Bertuah.
***
“Mau ke mana nak?” seorang kakek berambut putih bertanya ke
pada Ranggona.
“Aku tidak tahu Kek,” jawabnya cuek.
“Kau berjalan, tapi tidak tahu tujuan, aneh!”
“Aku lupa jalan Kek.”
“Masih muda sudah pikun.”
“Sudah bau tanah, masih ngurusin orang, dasar orang tua!”
celoteh Ranggona berlalu meninggalkan kakek tua tersebut yang
menggelang-gelengkan kepalanya melihat ulah Ranggona.
Segerombolan gerimis berkejar-kejaran mengiringi
panggilan Ilahi di surau di ujung jalan. Langit senja yang kemerah-merahan
mulai berbaur dengan gelapnya awan hitam. Gontai langkah Ranggona menyusuri jalan
yang dipenuhi serdadu kerikil yang menggigil kedinginan dicumbui gerimis.
Matanya yang dari tadi begitu berat menahan kantuk.
“Gdruuuuuuuuuuuuuuuuuuk.”
“Aaaaaaaaaaak.” Ia meringgis kesakitan. Matanya berat dan
bertambah berat. Ia tidak bisa bangkit. Tubuhnya lemas. Pandangannya gelap.
“Dasar manusia dungu, jalan selebar ini, malah masuk
parit.”
“Hei, siapa kau?” sambil mencoba mengucek matanya dan
melihat ke arah suara.
“Aku di sini, di belakangmu.”
“Kambing, kau seekor kambing bau.” Ia melihat kambing itu
bicara padanya.
“Biarlah aku bau, asalkan tidak dungu sepertimu.”
“Baik, hai kambing bau, mau ke mana kau?” Ranggona balik
bertanya.
“Aku mau pulang ke rumahku, menemui ibu dan
bapakku. Engkau sendiri?” “Aku tidak tahu, aku lupa rumahku,” jawab Ranggona
pesimis.
“Kasihan, masih muda tapi dungu.”
“Jangan mengejekku, apa kau mau membantuku?”
“Baik, apa yang bisa aku bantu?”
“Aku ingin pulang ke rumah sepertimu, tapi aku lupa.
Maukah kau berbaik hati meminjamkanku ingatanmu?”
“Baik, tapi dengan syarat, aku juga ingin merasakan
menjadi manusia sepertimu. Jadi pinjamkan aku ragamu.”
“Setuju. Terima kasih!” ujar Ranggona bahagia. Sekarang ia
sudah ingat rumahnya. Kapanpun ia mau pulang ia bisa. Sialnya ia tidak pulang
ke rumah, malah berniat ke tempat teman-temannya yang lagi pesta narkoba dan
miras.
“Sekarang kau bisa pulang.”
“Aku rasa aku belum saatnya pulang. Cihui...aku sudah
ingat rumah, mending aku fly dulu, ngedrug. Ke tempat Jolo.”
“Ngedrug? Hheh, tubuhku kupinjamkan bukan untuk ngedrug
dan mabuk-mabukan. Sekarang kau harus merangkak dan makan rumput,” tegas
kambing itu berlalu.
Dingin malam semakin
merajalela. Walau tampak sesekali bintang bersanding mesra dengan bulan.
Saking happynya ia tidak memperhatikan bentuk tubuhnya yang tidak normal
lagi. Jalanya kini merangkak. Sesekali ia berhenti mencari rumput.
“Busyet...gawat...mengapa
jalanku seperti kambing, aku berbulu, berjenggot. Bau. Iiih..” Ia panik
setengah mati. Ternyata ia telah bertukar raga dengan ingatan si kambing.
“Bedebah, mana ragaku yang tampan itu. Dasar kambing
sialan. Kalau begini keadaanku, bukan diajak nongkrong, malah diguling.” Ia tak
habis pikir mengapa bisa begini. Walau pun ia ingat rumah, tapi keadaannya yang
tak memungkinkan untuk pulang.
***
Langit tampak tersenyum menemani sang rembulan. Terang
bulan menyoroti bumi Lancang Kuning negeri Melayu itu. Cahayanya mengintip malu
di celah dedaunan Akasia. Tanpak Ranggona duduk di sebelah surau tua di ujung
jalan. Matanya kosong menatap malam. Ia meperhatikan bentuk tubuh barunya yang
bau itu.
“Dasar kambing bau, kerjanya cuma bermalasan di samping
surau tua.”
“Siapa itu, keluar kau kalau berani?”
“Dari tadi aku sudah ke luar kawan, dekat perutmu.”
“Hhhah...sssiapa kau?”
“Aku kodok hijau, kamu pasti kambing yang kehilangan
induk ya?”
“Bukan kehilangan induk, tapi kehilangan raga!”
“Maksudmu?”
“Aku ini manusia, tapi aku menukarkan ragaku dengan
ingatan si kambing ini, karena aku lupa di mana rumahku.”
“Jadi, di mana raga aslimu?”
“Lhoh..mestinya aku yang bertanya, apa kau melihat
manusia yang berprilaku kambing?”
“Coba kuingat, ya....tadi ada anak muda yang pakaiannya
kumuh makan daun rambutan.”
“Ya, pasti itu aku yang lagi berjiwa kambing,
tidak....itu kambing yang berjiwa sepertiku, itu kambing atau aku?” Ranggona
kebingungan sendiri.
“Kawan, kau terlihat bingung, aku bersedia membantumu.”
“Pakai syarat? Kalau pakai syarat aku tidak mau.”
“Berbuat baik tidak pakai syarat, begini, aku tahu tempat
pemuda yang berjiwa kambing itu berada.”
“Di mana?”
“Di seberang sungai kecil sana.”
“Wah, aku tidak bisa berenang, kambing sejarahnya tidak
mandi. Apa kau mau membantuku menyeberang ke sana?”
“Tidak mungkin. Kau berat. Kecuali..... kau seperti aku.”
“Bagaimana caranya supaya aku sepertimu?”
“Mudah saja, kau boleh pinjam ragaku untuk menyeberang,
tinggalkan kambing ini dan juga akalmu,” tawar si kodok.
“Baiklah, aku sepakat.” Akhirnya dengan mudah Ranggona
menyebarang. Dengan beberapa kali lompatan. Ia ke daratan. Tapi ia kebingungan.
Tidak ada satu pun yang ia ingat.
“Tubuhku sangat ringan, waduh...kakiku hijau, badanku
hijau. Aku jadi kodok. Tidak....” Ia lemas tak percaya. Lagi-lagi ia terkecoh.
Kali ini ia bisa menyeberang, tapi ingatan dan akalnya tinggal di seberang
dalam kepala kambing sama si kodok hijau.
“Bodoh..”
“Heii siapa kau, ooh...kura-kura...jangan kau coba
menipuku.”
“Siapa yang ingin menipumu? Malah aku heran, ada saja
manusia yang dungu mau menjadi seekor kambing dan kodok hijau.”
“Bagaimana mungkin kau bisa tahu tentang apa yang
menimpaku?” tanya Ranggona heran.
“Aku kura-kura yang dulu setia pada seorang raja yang menguasai
para hewan, manusia, jin dan syetan,” jelas kura-kura itu.
“Siapakah dia itu, sungguh hebat?” tanya Ranggona
penasaran.
“Kau tak mungkin mengenalnya, jika kau tak pernah
mengenal yang menciptakan dan memberikan kekuasaan padanya.”
“Ternyata..ada lagi yang lebih hebat di atasnya, dia yang
menciptakan rajamu dan memberikannya kekuasaan. Siapakah dia?” tanya Ranggona
takjub.
“Manusia kodok yang aneh. Mungkin kau tidak tahu bahwa Dia
bisa merubah apa pun yang Dia kehendaki.”
“Tttermasuk merubahku menjadi manusia lagi? Siapakah nama
rajamu tadi?”
“Sulaiman. Untuk apa kau menayakan namanya?”
“Aku ingin bertemu dengannya.”
“Untuk apa kau bertemu dengannya?”
“Aku ingin meminta bantuannya untuk bertemu dengan yang menciptakannya.”
“Untuk apa kau bertemu dengan yang menciptakannya?”
“Jangan banyak tanya! Aku hanya ingin protes tentang
ingatanku yang hilang.”
“Dia adalah Tuhan Yang Maha Suci, Dia hanya bisa ditemui
oleh manusia yang beragama.”
“Sepertinya aku pernah mendengar kata ‘agama’ itu, tapi masalahnya
aku lupa.”
“Apakah kau punya agama?” tanya kura-kura.
“Agama? Untuk siapakah agama itu?” Ranggona malah balik
bertanya.
“Untuk orang yang punya akal, karena hanya dengan agama
Tuhan bisa ditemui.”
“Waduh....gawat...aku lupa apakah aku punya agama atau
tidak, akalku masih tertinggal sama kodok hijau. Yang penting aku ingin bertanya
pada-Nya tentang ingatanku. Jadi Dia tak bisa kutemui tanpa akal atau agama?”
“Bagaimana mungkin kau protes tentang ingatanmu,
sementara selama ini kau lupa dengan yang menciptakan ingatanmu itu. Kau takkan
bisa bertemu dengan Tuhan jika kau tak punya akal dan agama.”
“Hahhhh.....!!"
***
Malam semakin pekat. Sesekali cahaya bulan menebar senyum
indahnya di wajah bumi Lancang Kuning. Suara hingar-bingar jangkrik begitu khas
memecah kesunyian malam.
“Dik..dik...bangun!”
“Aku sudah beragama. Izinkan aku bertemu dengan Tuhan?”
“Dik..sadar...”
“Baapak siapa? Aku di mana?” Ranggona membuka matanya. Ia
melihat sosok putih di hadapannya. Ia takut. Kalut.
“Tenang, dik, Bapak jamaah di surau ini.” Seorang yang
berjubah putih mencoba menenangkannya.
“Mengapa tubuhku basah kuyup begini? Apa aku bermimpi?
Tidak mungkin...ini nyata. Aku mau pulang!”
“Adik tinggal di mana?”
“Aku lupa. Aku mau pulang ke rumah!”
“Dik, coba ceritakan apa yang terjadi padamu?”
“Aku lupa.”
“Apa agamamu, dik?”
“Agama. Aku lupa. Aku ingin bertemu Tuhan.”
“Baiklah, kalau kau ingin bertemu Tuhan. Sucikan dirimu
terlebih dahulu.”
“Aku tidak tahu apa itu bersuci.”
“Lantas, apa yang membuatmu ingin bertemu Tuhan?”
“Aku ingin ingatanku dikembalikan agar aku bisa pulang.”
“Apakah kau pernah mengingat-Nya di waktu lapang? Jika
kau mengingat-Nya di waktu lapang, pasti Dia mengingatmu di waktu sempit.”
“Aku lupa. Pak, beri tahu aku, malam apa ini?”
“Awal malam mulia.”
“Maksud bapak?”
“Inilah malam bulan penuh berkah, kasih sayang dan ampunan.
Bulan Ramadhan.”
“Ramadhan....! Mengaji...ya aku ingat mengaji di surau
itu. Bulan berkah, ya aku ingat di waktu ramadhan lalu.”
“Syukurlah, ingatanmu sudah Tuhan kembalikan.”
“Apa yang aku lakukan di bulan mulia ini?” Ranggona
tertunduk. Ia termenung.
“Besyukurlah, yang terpenting kau sudah ingat pada-Nya.
Sebelum kau kembali ke rumahmu. Masuklah dulu ke rumah-Nya.”
“Siapa namamu, dik?”
“Namaku...Aku lupa. Nnnama bapak siapa?”
“Orang-orang selalu memanggilku Izrail. Akulah malaikat
maut yang menjemputmu.”
“Ma............!!” Ranggona sangat terkejut atas takdir
yang menimpanya. Penyesalan selalu di akhirnya episode langkah hidup. Mengapa
selama ini ia tak mempersiapkan diri untuk yang pasti ini. Seakan ia tak mampu
mengucapkan sepatah kata pun. Mulutnya terkunci. Bibirnya beku. Seluruh tulang
sendinya seakan terpisah dan berserakan. Tubuhnya menggigil.
***
Penulis: Abu Yusuf

Tidak ada komentar:
Posting Komentar