Jumat, 17 Januari 2020

LUPA


LUPA
photo by wikipedia


Hembusan angin senja menyapa semesta. Bumi Melayu kembali dicumbui oleh udara panas yang menjilat-jilat aspal, serasa panas mendidih keluar dari perut bumi, panasnya memuncak ke ubun-ubun. Di jalan raya kendaraan dan orang-orang ramai berlalu-lalang, hilir-mudik seperti aliran sungai Siak. Agaknya panas hari ini menandakan alam Melayu yang kaya akan tambang minyak bumi. Makanya panasnya menebar di seluruh sudut-sudut, serta jantung kota Pekanbaru yang juga dikenal dengan nama kota Bertuah. Akan tetapi panasnya belum seberapa dibandingkan panas masyarakat Melayu yang antri membeli BBM, dan kadang-kadang keburu habis, walau kabarnya minyak di atas, minyak di bawah. Tampak seorang remaja dengan wajah pucat memasuki gang-gang kecil di pinggiran sungai Siak. Jalannya sempoyongan memasuki sebuah pagar rumah berwarna kuning.
“Treeeeeeeeeeeeeeeeng.”
“Oh, Tuhan! Apa yang terjadi dengan anakku!”
Bu Sri membalikkan tubuh anaknya yang tergeletak di depan pintu. Perlahan ia tatap anaknya yang separuh sadar. Dengan air mata yang deras mengaliri pipinya. Dia membangunkan anaknya dari tumpukan serpihan-serpihan kaca jendela.
“Pergi kau, jangan injakkan kakimu di rumah ini.” Tiba-tiba suara bapaknya dengan amat murka seperti guntur.
“Pak, sudah Pak.” Ibu Sri mencoba menenangkan suaminya.
“Mungkin kau akan sadar jika kau lupa dengan rumah ini,” bentak bapaknya.
“Sudah Pak, ia lagi terluka.”
“Biar ia rasakan. Apa ia tidak tahu hari apa sekarang. Hari pertama Ramadhan malah berbuat maksiat. Memalukan keluarga. Untuk apa saya sekolahkan jauh-jauh kalau begini jadinya.”
“Ranggona, kau dengar Ibu nak, jangan pergi.”
“Bapak benar Bu, aku harus melupakan rumah ini.”
Ranggona berdiri. Ia melangkah keluar pagar rumah. Ibunya dengan air mata berlinang mencoba menahannya. Tapi keputusannya sudah bulat. Ia harus pergi meninggalkan rumahnya. Entah ke mana. Mengikuti langkah dan para serdadu debu jalanan. Dengan jalan yang sempoyongan. Sesekali kakinya tersandung batu. Jatuh. Berdiri dengan tertatih-tatih. Mentari senja mulai menguning. Sekawanan burung mulai mencari sarangnya. Kepingan-kepingan awan seperti menikmati bulan madu untuk menghitamkan langit senja bumi Lancang Kuning kota Bertuah.
***
“Mau ke mana nak?” seorang kakek berambut putih bertanya ke pada Ranggona.
“Aku tidak tahu Kek,” jawabnya cuek.
“Kau berjalan, tapi tidak tahu tujuan, aneh!”
“Aku lupa jalan Kek.”
“Masih muda sudah pikun.”
“Sudah bau tanah, masih ngurusin orang, dasar orang tua!” celoteh Ranggona berlalu meninggalkan kakek tua tersebut yang menggelang-gelengkan kepalanya melihat ulah Ranggona.
Segerombolan gerimis berkejar-kejaran mengiringi panggilan Ilahi di surau di ujung jalan. Langit senja yang kemerah-merahan mulai berbaur dengan gelapnya awan hitam. Gontai langkah Ranggona menyusuri jalan yang dipenuhi serdadu kerikil yang menggigil kedinginan dicumbui gerimis. Matanya yang dari tadi begitu berat menahan kantuk.
“Gdruuuuuuuuuuuuuuuuuuk.”
“Aaaaaaaaaaak.” Ia meringgis kesakitan. Matanya berat dan bertambah berat. Ia tidak bisa bangkit. Tubuhnya lemas. Pandangannya gelap.
“Dasar manusia dungu, jalan selebar ini, malah masuk parit.”
“Hei, siapa kau?” sambil mencoba mengucek matanya dan melihat ke arah suara.
“Aku di sini, di belakangmu.”
“Kambing, kau seekor kambing bau.” Ia melihat kambing itu bicara padanya.
“Biarlah aku bau, asalkan tidak dungu sepertimu.”
“Baik, hai kambing bau, mau ke mana kau?” Ranggona balik bertanya.
“Aku mau pulang ke rumahku, menemui ibu dan bapakku. Engkau sendiri?” “Aku tidak tahu, aku lupa rumahku,” jawab Ranggona pesimis.
“Kasihan, masih muda tapi dungu.”
“Jangan mengejekku, apa kau mau membantuku?”
“Baik, apa yang bisa aku bantu?”
“Aku ingin pulang ke rumah sepertimu, tapi aku lupa. Maukah kau berbaik hati meminjamkanku ingatanmu?”
“Baik, tapi dengan syarat, aku juga ingin merasakan menjadi manusia sepertimu. Jadi pinjamkan aku ragamu.”
“Setuju. Terima kasih!” ujar Ranggona bahagia. Sekarang ia sudah ingat rumahnya. Kapanpun ia mau pulang ia bisa. Sialnya ia tidak pulang ke rumah, malah berniat ke tempat teman-temannya yang lagi pesta narkoba dan miras.
“Sekarang kau bisa pulang.”
“Aku rasa aku belum saatnya pulang. Cihui...aku sudah ingat rumah, mending aku fly dulu, ngedrug. Ke tempat Jolo.”
Ngedrug? Hheh, tubuhku kupinjamkan bukan untuk ngedrug dan mabuk-mabukan. Sekarang kau harus merangkak dan makan rumput,” tegas kambing itu berlalu.
Dingin malam semakin  merajalela. Walau tampak sesekali bintang bersanding mesra dengan bulan. Saking happynya ia tidak memperhatikan bentuk tubuhnya yang tidak normal lagi. Jalanya kini merangkak. Sesekali ia berhenti mencari rumput.
 “Busyet...gawat...mengapa jalanku seperti kambing, aku berbulu, berjenggot. Bau. Iiih..” Ia panik setengah mati. Ternyata ia telah bertukar raga dengan ingatan si kambing.
“Bedebah, mana ragaku yang tampan itu. Dasar kambing sialan. Kalau begini keadaanku, bukan diajak nongkrong, malah diguling.” Ia tak habis pikir mengapa bisa begini. Walau pun ia ingat rumah, tapi keadaannya yang tak memungkinkan untuk pulang.
***
Langit tampak tersenyum menemani sang rembulan. Terang bulan menyoroti bumi Lancang Kuning negeri Melayu itu. Cahayanya mengintip malu di celah dedaunan Akasia. Tanpak Ranggona duduk di sebelah surau tua di ujung jalan. Matanya kosong menatap malam. Ia meperhatikan bentuk tubuh barunya yang bau itu.
“Dasar kambing bau, kerjanya cuma bermalasan di samping surau tua.”
“Siapa itu, keluar kau kalau berani?”
“Dari tadi aku sudah ke luar kawan, dekat perutmu.”
“Hhhah...sssiapa kau?”
“Aku kodok hijau, kamu pasti kambing yang kehilangan induk ya?”
“Bukan kehilangan induk, tapi kehilangan raga!”
“Maksudmu?”
“Aku ini manusia, tapi aku menukarkan ragaku dengan ingatan si kambing ini, karena aku lupa di mana rumahku.”
“Jadi, di mana raga aslimu?”
“Lhoh..mestinya aku yang bertanya, apa kau melihat manusia yang berprilaku kambing?”
“Coba kuingat, ya....tadi ada anak muda yang pakaiannya kumuh makan daun rambutan.”
“Ya, pasti itu aku yang lagi berjiwa kambing, tidak....itu kambing yang berjiwa sepertiku, itu kambing atau aku?” Ranggona kebingungan sendiri.
“Kawan, kau terlihat bingung, aku bersedia membantumu.”
“Pakai syarat? Kalau pakai syarat aku tidak mau.”
“Berbuat baik tidak pakai syarat, begini, aku tahu tempat pemuda yang berjiwa kambing itu berada.”
“Di mana?”
“Di seberang sungai kecil sana.”
“Wah, aku tidak bisa berenang, kambing sejarahnya tidak mandi. Apa kau mau membantuku menyeberang ke sana?”
“Tidak mungkin. Kau berat. Kecuali..... kau seperti aku.”
“Bagaimana caranya supaya aku sepertimu?”
“Mudah saja, kau boleh pinjam ragaku untuk menyeberang, tinggalkan kambing ini dan juga akalmu,” tawar si kodok.
“Baiklah, aku sepakat.” Akhirnya dengan mudah Ranggona menyebarang. Dengan beberapa kali lompatan. Ia ke daratan. Tapi ia kebingungan. Tidak ada satu pun yang ia ingat.
“Tubuhku sangat ringan, waduh...kakiku hijau, badanku hijau. Aku jadi kodok. Tidak....” Ia lemas tak percaya. Lagi-lagi ia terkecoh. Kali ini ia bisa menyeberang, tapi ingatan dan akalnya tinggal di seberang dalam kepala kambing sama si kodok hijau.
“Bodoh..”
“Heii siapa kau, ooh...kura-kura...jangan kau coba menipuku.”
“Siapa yang ingin menipumu? Malah aku heran, ada saja manusia yang dungu mau menjadi seekor kambing dan kodok hijau.”
“Bagaimana mungkin kau bisa tahu tentang apa yang menimpaku?” tanya Ranggona heran.
“Aku kura-kura yang dulu setia pada seorang raja yang menguasai para hewan, manusia, jin dan syetan,” jelas kura-kura itu.
“Siapakah dia itu, sungguh hebat?” tanya Ranggona penasaran.
“Kau tak mungkin mengenalnya, jika kau tak pernah mengenal yang menciptakan dan memberikan kekuasaan padanya.”
“Ternyata..ada lagi yang lebih hebat di atasnya, dia yang menciptakan rajamu dan memberikannya kekuasaan. Siapakah dia?” tanya Ranggona takjub.
“Manusia kodok yang aneh. Mungkin kau tidak tahu bahwa Dia bisa merubah apa pun yang Dia kehendaki.”
“Tttermasuk merubahku menjadi manusia lagi? Siapakah nama rajamu tadi?”
“Sulaiman. Untuk apa kau menayakan namanya?”
“Aku ingin bertemu dengannya.”
“Untuk apa kau bertemu dengannya?”
“Aku ingin meminta bantuannya untuk bertemu dengan yang menciptakannya.”
“Untuk apa kau bertemu dengan yang menciptakannya?”
“Jangan banyak tanya! Aku hanya ingin protes tentang ingatanku yang hilang.”
“Dia adalah Tuhan Yang Maha Suci, Dia hanya bisa ditemui oleh manusia yang beragama.”
“Sepertinya aku pernah mendengar kata ‘agama’ itu, tapi masalahnya aku lupa.”
“Apakah kau punya agama?” tanya kura-kura.
“Agama? Untuk siapakah agama itu?” Ranggona malah balik bertanya.
“Untuk orang yang punya akal, karena hanya dengan agama Tuhan bisa ditemui.”
“Waduh....gawat...aku lupa apakah aku punya agama atau tidak, akalku masih tertinggal sama kodok hijau. Yang penting aku ingin bertanya pada-Nya tentang ingatanku. Jadi Dia tak bisa kutemui tanpa akal atau agama?”
“Bagaimana mungkin kau protes tentang ingatanmu, sementara selama ini kau lupa dengan yang menciptakan ingatanmu itu. Kau takkan bisa bertemu dengan Tuhan jika kau tak punya akal dan agama.”
“Hahhhh.....!!"
***
Malam semakin pekat. Sesekali cahaya bulan menebar senyum indahnya di wajah bumi Lancang Kuning. Suara hingar-bingar jangkrik begitu khas memecah kesunyian malam.
“Dik..dik...bangun!”
“Aku sudah beragama. Izinkan aku bertemu dengan Tuhan?”
“Dik..sadar...”
“Baapak siapa? Aku di mana?” Ranggona membuka matanya. Ia melihat sosok putih di hadapannya. Ia takut. Kalut.
“Tenang, dik, Bapak jamaah di surau ini.” Seorang yang berjubah putih mencoba menenangkannya.
“Mengapa tubuhku basah kuyup begini? Apa aku bermimpi? Tidak mungkin...ini nyata. Aku mau pulang!”
“Adik tinggal di mana?”
“Aku lupa. Aku mau pulang ke rumah!”
“Dik, coba ceritakan apa yang terjadi padamu?”
“Aku lupa.”
“Apa agamamu, dik?”
“Agama. Aku lupa. Aku ingin bertemu Tuhan.”
“Baiklah, kalau kau ingin bertemu Tuhan. Sucikan dirimu terlebih dahulu.”
“Aku tidak tahu apa itu bersuci.”
“Lantas, apa yang membuatmu ingin bertemu Tuhan?”
“Aku ingin ingatanku dikembalikan agar aku bisa pulang.”
“Apakah kau pernah mengingat-Nya di waktu lapang? Jika kau mengingat-Nya di waktu lapang, pasti Dia mengingatmu di waktu sempit.”
“Aku lupa. Pak, beri tahu aku, malam apa ini?”
“Awal malam mulia.”
“Maksud bapak?”
“Inilah malam bulan penuh berkah, kasih sayang dan ampunan. Bulan Ramadhan.”
“Ramadhan....! Mengaji...ya aku ingat mengaji di surau itu. Bulan berkah, ya aku ingat di waktu ramadhan lalu.”
“Syukurlah, ingatanmu sudah Tuhan kembalikan.”
“Apa yang aku lakukan di bulan mulia ini?” Ranggona tertunduk. Ia termenung.
“Besyukurlah, yang terpenting kau sudah ingat pada-Nya. Sebelum kau kembali ke rumahmu. Masuklah dulu ke rumah-Nya.”
“Siapa namamu, dik?”
“Namaku...Aku lupa. Nnnama bapak siapa?”
“Orang-orang selalu memanggilku Izrail. Akulah malaikat maut yang menjemputmu.”
“Ma............!!” Ranggona sangat terkejut atas takdir yang menimpanya. Penyesalan selalu di akhirnya episode langkah hidup. Mengapa selama ini ia tak mempersiapkan diri untuk yang pasti ini. Seakan ia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Mulutnya terkunci. Bibirnya beku. Seluruh tulang sendinya seakan terpisah dan berserakan. Tubuhnya menggigil.
***

Penulis: Abu Yusuf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar