SANDAL DARI LANGIT
Siang
yang cerah. Langit mesra dengan sang mentari yang begitu memesona menyinari
segenap semesta. Tampak jamaah Masjid Jami’ sudah mulai ke luar. Shalat Juma’at
sudah usai. Hari pertama Ramadhan. Beberapa orang jamaah kelihatan sibuk
mencari sandal mereka masing-masing.
“Sandalku..?”
teriak Irfan yang lagi sibuk mencari sandalnya.
“Ada
apa, dik?” tanya seorang jamaah pada Irfan.
“Ini
Pak, sandal saya tidak ada.”
“Mungkin
di pintu sebelah sana, barang kali ada.”
“Mungkin.” Irfan pun segera ke belakang Masjid
yang masih semak belukar. Ia pun mendapatkan hasil yang sama. Sandalnya lenyap.
Entah di mana. Entah siapa yang mengambilnya. Ia melihat beberapa potongan sandal
bekas yang sudah nampak lusuh. Ia perhatikan, namun ia tidak menemukan sandalnya.
Ia curiga jangan-jangan ada yang mengambil sandal-sandal malang tersebut lalu
mencabik-cabiknya tanpa belas kasihan. Semakin ia perhatikan di dalam
semak-semak, terlihat ekor berwarna hitam. Irfan mengambil sebuah batu lalu
dilemparnya. Terlihat seekor anjing hitam lari ketakutan.
“Pasti
anjing itu yang mengambil sandalku. Awas kalau dapat!” Ia mengikuti si anjing
yang lari seperti ketakutan tersebut. Semakin jauh anjing itu lari ke
semak-semak. Tiba-tiba anjing tersebut menghilang ditelan segerombolan semak.
Ia tidak melihat si anjing tersebut.
“Kludruuuuuuuuuuk.”
“Akkkkkkk,
ikkkkkkkkkkkk.” Irfan memekik. Tubuhnya terpental. Kakinya ke atas. Tubuhnya
begitu berat. Pandangannya kunang-kunang. Gelap. Bertambah gelap. Tubuhnya
terasa lemah. Ia tak sanggup menggerakkan tubuhnya.
“Meau.....meau....”
“Sepertinya
suara kucing. Akhhh..kepalaku..”
“Kalau
berjalan pakai mata!”
“Hhhhaaaa,
siapa itu? Kau seekor kucing, ihh bulumu kotor sekali. Menjijikan.” Ia menatap
seekor kucing yang berbicara padanya. Sesekali ia mengucek matanya. Setengah
tak percaya.
“Hei
manusia sombong, biarlah tubuhku kotor asalkan hatiku tidak.”
“Kucing
kotor, mengapa kau ada di sini?”
“Aku
dari tadi pagi terjebak dalam sumur ini. Kau sendiri, mengapa kau bisa di
sini?”
“Panjang
ceritanya, yang jelas aku harus menangkap anjing kurang hajar itu.”
“Maksudmu
anjing hitam itu?”
“Kau
kenal dengannya?” tanya Irfan penasaran.
“Aku terjebak
karenanya. Kau sendiri apa urusanmu dengannya?”
“Karena
anjing sialan itu melarikan sandalku.” Irfan menjelaskan tentang sadalnya itu
walaupun ia antara percaya dan tidak tentang perihal kucing yang bisa
berbicara.
“Besyukurlah!”
“Apa
maksudmu menyuruhku bersyukur, padahal aku sedang kehilangan sandal kesayanganku.
Tidak....aku tidak mau....”
“Terserah
padamu,” ujar kucing sambil menaikan telinganya karena jengkel melihat ulah
Irfan.
“Apa
kau tahu di mana tempat anjing itu?”
“Aku tahu.
Tapi aku tak bisa mengantarmu. Bagini saja, aku bisa membantumu, kau boleh
meminjam instingku untuk mengejar anjing tersebut.”
Irfan
menerima tawaran si kucing tersebut. Ia bahagia. Kini ia akan dapat menangkap
anjing hitam itu. Namun tiba-tiba ia merasa aneh.
“Kakiku
ada empat? Hhhhahh...kok tubuhku jadi kecil begini, berbulu, aku menjadi seekor
kucing kotor. Oh, tidak..!” Ia baru menyadari bentuk tubuhnya yang berubah. Ia
kini berubah menjadi seekor kucing kecil yang kotor.
“Dasar
kucing sialan, kucing kotor....kembalikan tubuhku..!” teriak Irfan, tapi kini
hanya keluar suara kucing bukan suara manusia. Tanpa ia sadari ia mencium bau
anjing tersebut. Benar insting kucing itu berfungsi. Kini ia hanya ingin
menangkap anjing tersebut. Tapi ketika ia memasang kuda-kuda, malah anjing itu
duluan mengejarnya. Ia baru ingat tubuhnya bukan tubuh manusia lagi. Sekarang
posisinya bukan sebagai pemburu, tapi objek buruan. Akhirnya ia memasang
langkah seribu. Kini giliran anjing hitam itu mengejarnya. Untung ada pohon di
dekatnya. Lalu ia memanjat secara spontan. Ia selamat dari serangan anjing
bringas tersebut.
“Hhuhh....untung
ada pohon,” ujarnya Irfan lega sembari mengusap dadanya.
***
Nyanyian
sekawanan burung di pohon-pohon mahoni siang itu memecahkan suasana. Terik
mentari siang mulai terasa menembus pepohonan di semak belukar itu.
“Kembalikan
tubuhku? Aku sudah tak betah jadi manusia yang rakus.”
“Hahh...hei
kucing kotor, seharusnya aku yang tidak betah dengan tubuh yang kecil dan
menjijikan ini,” ujar Irfan kesal ketika bertemu raganya.
Kucing
itu dan Irfan sepakat bertukar raga. Tanpa ia sadari ia kembali menjadi seperti
semula. Ia meperhatikan tubuhnya. Ia sudah menjadi manusia. Ia masih heran apa
yang sebenarnya terjadi.
“Sekarang,
kita kembali seperti semula. Kau mau ke mana?”
“Aku
mau kembali ke rumah majikanku.”
“Apa
kau tak keberatan jika aku ikut denganmu?” pinta Irfan setengah memaksa.
“Coba
kupikir dulu....aa boleh lah, tapi jangan menyesal.”
“Maksudmu?
Apa majikanmu itu kejam?”
“Tidak,
maksudku...kalau kau tidak jadi bertemu dengannya, yah bisa jadi kau menyesal
seumur hidupmu.” Si kucing berjalan memasuki semak belukar. Irfan juga
mengikuti si kucing tersebut. Sekitar seratus meter mereka menerjang serdadu
semak belukar. Akhirnya sampai di depan pagar sebuah rumah tua seperti tak
berpenghuni.
“Aku
mau pulang saja,” ujar Irfan yang perlahan memutar arah tubuhnya ke belakang.
“Kau
takut? Tak ada yang perlu kau takutkan pada makhluk Tuhan, jika kau hanya takut
pada-Nya semata,” tegas si kucing layaknya seorang yang berceramah.
“Tahu
apa kau tentangng Tuhan. Kucing kok bertuhan!”
“Hei,
memang manusia saja makhluk Tuhan? Kebanyakan manusia itu tidak mengenal Tuhannya.
Sudah masuk saja denganku!”
“Tunggu...itu
siapa yang duduk di kursi di bawah pohon?”
“Ooo..itu
tukang taman majikanku. Silahkan tanya dengannya tentang majikanku. Aku mau
menemui temanku di gudang belakang.” Kucing itu pun pergi meninggalkan Irfan
sendirian di depan pagar rumah tua tersebut.
“Mmmaaf
pak, apa orang yang punya rumah ini ada di dalam?” tanya Irfan gugup. Sepasang
bola mata menatapnya dalam dan bisu. Tukang taman itu hanya diam. Sesekali ia
menundukkan kepalanya dan sesekali ia menatap dalam Irfan. Irfan panik dan
takut. Tapi ia coba menenangkan diri.
“Apa
kau seorang Muslim?” tiba-tiba tukang taman itu balik bertanya.
“Iiiya..Pak.”
“Bagaimana
seorang Muslim kalau bertemu sesama Muslim?”
“Sssaya
kurang tahu, Pak. Soalnya....”
“Masih
muda, tapi belum tahu agama. Apa hajatmu ke sini?”
“Aku
ingin bertemu majikan bapak.”
“Untuk
apa bertemu beliau?”
“Aku
ingin menanyakan perihal anjing hitam yang mencuri sandal saya di Masjid?”
“Kau
kehilangan sandalmu? Kau beruntung!”
“Lhohh..bapak
jangan mengejek saya, jelas-jelas saya kehilangan sandal kesayangan saya. Sandal
itu saya beli jauh sekali, di Jawa sana.”
“Kau
lihat lengan kiri saya. Seminggu yang lalu saya kehilangan tangan saya dalam
sebuah kecelakaan.”
“Yah,
apa urusannya denga saya, kan yang hilang tangan bapak,” ujarnya tanpa rasa
bersalah dan prihatin.
“Jadi
kau benar-benar mau bertemu dengan majikan saya?”
“Yah,
ngapain saya jauh-jauh menerobos semak belukar ke sini. Di mana majikan bapak?”
“Kalau
begitu, silahkan masuk ke ruang sebelah kiri. Majikan saya sedang duduk di
kursi goyang.” Tukang taman itu mengantarkan menuju sebuah ruangan yang sudah
tua. Terlihat papan sebagai dindingnya sudah menjadi langganan rayap. Ada dua
kursi tua. Satu kursi goyang dan satu meja tua. Terlihat seorang lelaki tua
yang berambut serba putih dari belakang yang sedang menikmati goyongan kursi
tersebut.
“Tok..tok....”
“Mmaaf
Pak, apa boleh saya masuk?”
“Ehem...siapa
kamu? Apa kamu seorang Muslim?”
“Sssaya
Irfan Pak. Ssaya Muslim.”
“Biasanya
apa yang diucapkan seorang Muslim ketika masuk rumah?”
“Ssaya
tidak tahu Pak. Saya tidak pernah belajar agama Pak.”
“Hmm...silahkan
duduk. Apa hajatmu ke sini anak muda?”
“Saya
ingin sandal saya yang hilang dikembalikan Pak. Anjing hitam bapak melarikan sandal
saya di Masjid?” Suasan jadi hening. Bapak tua itu merubah posisinya ke arah
Irfan. Ia menatap Irfan dalam.
“Apa
benar anjing hitam itu yang melarikannya?”
“Ya
Pak, saya lihat di dekat anjing itu banyak sandal bekas gigitan.”
“Anjing
hitam itu bukan milik saya, tapi milik Tuhan saya. Dia yang menciptakannya.
Jadi kamu mintak saja sama Tuhan saya gantinya!”
“Bagaimana
caranya saya bisa bertemu Tuhan?”
“Sebenarnya
sangat bisa, tapi...kalau boleh saya bertanya, seberapa pentingkah sandal itu
bagimu hingga kamu mau bertemu Tuhan karenanya?”
“Sandal
itu adalah sandal kesayangan saya. Saya rela melakukan apa pun untuk
mendapatkannya lagi. Saya tak bisa berlebaran tanpa sandal itu.”
“Bersyukurlah,
nak!” ujar bapak tua itu sambil menggoyangkan kursi.
“Bapak
jangan mengajari saya. Sudah jelas saya rugi dan kehilangan sandal kesayangan
saya, eh malah disuruh bersyukur. Apanya yang disyukuri?”
“Kamu masih punya kaki kan?”
“Ohh jelas toh Pak, utuh.”
“Mana
kamu pilih, hilang kaki atau hilang sandal?”
“Ahh..bapak
jangan bercanda. Sudah jelas kaki dong, eh sandal. Kaki atau sandal ya?” Irfan
malah kebingungan antara sandal atau kaki. Sementara ia datang mencari sandal.
“Kalau
kamu punya kaki, sudah seberapa sering kamu melangkah ke Masjid? Banyak
melangkah ke mana kakimu, ke tempat Tuhan atau ke tempat syetan?”
“Sssaayy...saya
baru sekali ke Masjid Pak, selebihnya ke mall dan diskotik!”
“Nak,
coba lihat ke bawah.” Bapak tua itu menarik kain sarungnya ke atas. Ternyata
bapak tua itu tidak memiliki kaki. Kedua kakinya putus.
“Kkke
mana kaki bapak, hilang juga?”
“Kamu
baru kehilangan sandal saja sudah sangat gaduh, bagaimana jika kakimu itu yang
hilang? Kamu tidak dapat ke mana-mana. Apa kamu masih mau bertemu Tuhan
menanyakan sandalmu?”
“Iiiiya
Pak.”
“Bagaimana
mungkin kamu bisa bertemu Tuhan sementara kakimu selama ini tidak kamu bawa
melangkah untuk menemui-Nya? Apakah sekarang kamu tetap akan menuntut kembali
sandalmu yang ditakdirkan hilang, sementara kakimu ada saja kamu tidak bersyukur?”
“Ak........!!”
suasan hening. Sepertinya Ia tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun
mendengar ucapan bapak itu. Tiba-tiba ia mendengar suara brisik.
“Dik...dik...bangun.”
“Akkk....sssiapa
iiitu?”
“Dik,
mengapa kamu berada di dalam sumur tua ini? Sini bapak bantu, segera keluar
dari sana,” ujar seorang bapak yang berambut putih dari atas sumur tua itu.
Dengan bantuan bapak tua itu akhirnya Irfan keluar dari sumur itu.
“Baaaapak...yang
tadi di rumah tua itu?”
“Rumah
itu memang rumah saya, tapi sudah saya jual.”
“Tidak...saya
tidak bermimpi, di mana kucing dan tukang taman bapak?” Irfan masih mengucek
matanya. Ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Mengapa ia berada di
sumur tua itu, kemudian bertemu kucing yang bisa berbicara dan mengantarkannya
ke rumah tua itu.
“Kucing
dan tukang taman sudah kembali ke asalnya?”
“Asalnya?
Mmaksud bapak?”
“Mereka
adalah para malaikat Tuhan serta sandal itu dari langit sebagai asbab yang
mengujimu dan saya malaikat maut yang datang memutus duniamu.”
“.............!!”
Mulut Irfan terkuci. Tubuhnya lemas. Seolah tubuh dan tulang-tulangnya terpisah.
Seluruh tubuhnya menggigil. Deras keringat membasahi sekujur tubuhnya. Semua
penyesalan menyatu. Waktu tidak bisa kembali ke belakang barang sesaat sekedar
mengucapkan maaf dan selamat tinggal kepada keluarga. Waktu tidak bisa mundur
sekedar belajar sujud dan senantiasa melangkahkan kaki ke rumah Allah.
***
Oleh: Abu Abdur

Tidak ada komentar:
Posting Komentar