Tuhan terlalu cepat semua kau panggil satu-satunya
Yang tersisa proklamator tercinta
Jujur lugu dan bijaksana mengerti yang terlintas dalam jiwa
Untuk Indonesia
(Bung Hatta-Iwan Fals)
Pada
18 Hijriyah di masa pemerintahan Umar bin Khattab pernah terjadi musim
paceklik yang berlangsung selama sembilan bulan. Kekeringan dan
kelaparan merebak di mana-mana, hingga dikatakan bahwa tanah berubah
warna menjadi hitam. Di antara keputusan yang diambil Umar adalah
menyurati para Gubernur di beberapa daerah untuk menggalang bantuan,
membagi-bagikan uang dan makanan dari Baitul Mal, dan mengurangi
kebiasaan konsumtif. Menariknya Umar bin Khattab mengawali hidup
sederhana itu dari dirinya sendiri, sehingga dikisahkan bahwa beliau
tidak pernah makan hingga kenyang serta menepis roti dan susu. Tubuh
umar pun mengurus, kering dan menghitam. Bukan beliau tidak mengetahui
bahwa kalau itu berlangsung lama bakal berujung penyakit, namun
demikianlah di antara sikap yang diambil untuk berempati dengan situasi
yang tengah dihadapi.
Jalan kepemimpinan adalah jalan
memberi, memberikan seluruh energi fisik maupun metafisik; tenaga,
waktu, pikiran, perhatian, financial, bahkan kehidupan itu sendiri.
Mereka yang menolak berada di rel tersebut dengan menghitung rupiah
dibalik setiap tindakan, membatas-batasi waktunya, dan bahkan justeru
mengambil diluar hak untuk kepentingan sesaat akan tenggelam dalam
kubangan sejarah kemanusiaan.
Di jalan kepemimpinan ini
keberhasilan masyarakat atau bawahan merupakan obsesi terbesar sang
pemimpin. Sebab ia telah menyatu dengan orang-orang yang dipimpinnya,
mereka adalah keluarganya dengan nasab kemanusiaan, tawa mereka adalah
tawanya, luka mereka adalah penderitaannya. Dan pada sisi yang lain ia
telah mempadakan dirinya dengan jaminan uluran tangan Tuhan.
Para
pemimpin yang bertahan di jalan ini telah lama hengkang dari
kepentingan pribadinya, ia memilih sempit untuk kelapangan orang lain,
memilih lapar untuk kekenyangan, sakit untuk kesehatan, bahkan kematian
untuk sebuah kehidupan. Kalau ada tiga komponen besar yang terpendam
dalam diri manusia; otak, hati dan perut, maka hatilah obsesi utamanya.
Mungkin suatu waktu tidak rasional keputusan yang diambilnya, karena
bisa jadi mencedrai dirinya sendiri, namun itu adalah bisikan hatinya.
Dan jalan kepemimpinan itu bukanlah jalan orang-orang yang menabuh genderang peperangan dengan nuraninya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar