Selasa, 18 November 2014

Jalan Kepemimpinan

Tuhan terlalu cepat semua kau panggil satu-satunya
Yang tersisa proklamator tercinta
Jujur lugu dan bijaksana mengerti yang terlintas dalam jiwa
Untuk Indonesia
(Bung Hatta-Iwan Fals)

Pada 18 Hijriyah di masa pemerintahan Umar bin Khattab pernah terjadi musim paceklik yang berlangsung selama sembilan bulan. Kekeringan dan kelaparan merebak di mana-mana, hingga dikatakan bahwa tanah berubah warna menjadi hitam. Di antara keputusan yang diambil Umar adalah menyurati para Gubernur di beberapa daerah untuk menggalang bantuan, membagi-bagikan uang dan makanan dari Baitul Mal, dan mengurangi kebiasaan konsumtif. Menariknya Umar bin Khattab mengawali hidup sederhana itu dari dirinya sendiri, sehingga dikisahkan bahwa beliau tidak pernah makan hingga kenyang serta menepis roti dan susu. Tubuh umar pun mengurus, kering dan menghitam. Bukan beliau tidak mengetahui bahwa kalau itu berlangsung lama bakal berujung penyakit, namun demikianlah di antara sikap yang diambil untuk berempati dengan situasi yang tengah dihadapi.

Jalan kepemimpinan adalah jalan memberi, memberikan seluruh energi fisik maupun metafisik; tenaga, waktu, pikiran, perhatian, financial, bahkan kehidupan itu sendiri. Mereka yang menolak berada di rel tersebut dengan menghitung rupiah dibalik setiap tindakan, membatas-batasi waktunya, dan bahkan justeru mengambil diluar hak untuk kepentingan sesaat akan tenggelam dalam kubangan sejarah kemanusiaan.

Di jalan kepemimpinan ini keberhasilan masyarakat atau bawahan merupakan obsesi terbesar sang pemimpin. Sebab ia telah menyatu dengan orang-orang yang dipimpinnya, mereka adalah keluarganya dengan nasab kemanusiaan, tawa mereka adalah tawanya, luka mereka adalah penderitaannya. Dan pada sisi yang lain ia telah mempadakan dirinya dengan jaminan uluran tangan Tuhan.

Para pemimpin yang bertahan di jalan ini telah lama hengkang dari kepentingan pribadinya, ia memilih sempit untuk kelapangan orang lain, memilih lapar untuk kekenyangan, sakit untuk kesehatan, bahkan kematian untuk sebuah kehidupan. Kalau ada tiga komponen besar yang terpendam dalam diri manusia; otak, hati dan perut, maka hatilah obsesi utamanya. Mungkin suatu waktu tidak rasional keputusan yang diambilnya, karena bisa jadi mencedrai dirinya sendiri, namun itu adalah bisikan hatinya.

Dan jalan kepemimpinan itu bukanlah jalan orang-orang yang menabuh genderang peperangan dengan nuraninya

fb: Wamdi Jihadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar