Seperti judul novelnya Paulo Coelho The Winner Stands Alone
demikianlah tuntutan kepada pengusung kebenaran ditengah terpaan badai,
riak dan gelombang kehidupan ini. Tidak mudah mempertahankan prinsip
atau idealisme di saat mayoritas manusia lagi merayakan hidup tanpa arah
dalam slogan kekinan bahwa kalau tidak sekarang kapan lagi (now is
ours). Sedangkan masa depan generasi
mendatang biarlah dipikirkan oleh mereka sendiri. Di masa seperti ini
orang mudah saja menanam janji untuk beberapa detik kemudian dia cabuti
kembali.
Inilah musimnya manusia berotak jongkok bertebaran di mana-mana dan menjadi benalu di batang tubuh peradaban yang kian sekarat. Masuk ke birokrasi berbelit-belit, menyesak ke partai politik tanpa nilai, menyusup ke pendidikan tanpa ruh, dan bila hadir di komunitas para ekonom menjadi lintah. Buat mereka tidak berarti regulasi dan undang-undang yang dirumuskan manusia, karena pagar Tuhan saja telah lama ditabraknya.
Para pembawa obor kebenaran di hari-hari ini lebih banyak menuai cibiran. Anggapan sok suci, tidak hidup bersama manusia, dan ragam ungkapan sinis lainnya berhamburan dari mulut-mulut yang gemar mengunyah daging dan minum darah saudara setanahairnya. Mereka pandai bersilat lidah, bersolek di media untuk sekedar mengelabui, merubah istilah perampok menjadi koruptor, kejahatan kerah putih dan lain sebagainya.
Padahal di antara mereka dulu adalah anak-anak muda yang turun gunung dari kampus dengan disesaki teori hitam putih kehidupan. Masih terang di kepala kita semasa kuliah dulu merekalah yang mengepal tinju dengan teriakan kemerdekaan, melafalkan lagu-lagu mahasiswa dan kebangsaan, serta berseru untuk meluruskan ketidakadilan. Namun seperti kata pepatah Arab bahwa ada manusia yang ikut makan bersama serigala namun juga ikut menangis bersama gembala.
Kesempatan, inilah sisi lain pertaruhan para pengusung kebenaran. Bahwa banyak manusia yang bisa tegak berdiri kokoh kala kesempatan belum datang adalah biasa, namun tidak luntur ketika ia di tangan inilah yang bisa dihitung dengan jari. Dan bahkan semestinya nilai-nilai kebenaran itu lebih tajam lagi ketika kesempatan ada dalam genggaman.
Di sinilah kita menguji sang pengusung kebenaran, bukan meragukan kebenaran yang dibawanya namun daya tahannya terhadap kebenaran yang menemukan momentum kesempatannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar