Sabtu, 15 November 2014

Menu Penghidup dan Pembersih Hati


Ketaatan ialah suatu kebutuhan bagi kehidupan hati sebagaimana halnya makanan dan minuman bagi kehidupan jasad. Jika seorang hamba wajib memenuhi faktor-faktor yang menyebabkan kehidupan jasadnya, maka apalagi hati yang harus lebih diperhatikan dibandingkan jasad.
Apabila kehidupan jasad menyebabkannya layak hidup tanpa susah karena penyakitnya di dunia, maka kehidupan hati menyebabkannya layak hidup sejahtera dan bersih di dunia, serta kebahagiaan yang tiada tara di akhirat.
Demikian pula kematian jasad, ia memutus hamba dari dunia. Sementara itu, kematian hati(hilang) memutuskannya dari kehidupan dunia dan akhirat, serta kepedihannya akan kekal selamanya.
Sebagian orang shaleh mengatakan, ”Alangkah mengherankan manusia. Mereka menangisi kematian jasad seseorang, tetapi tidak menangisi kematian hati seseorang (hilangnya hati). Padahal, masalahnya lebih berbahaya!” Dengan demikian, segala ketaatan merupakan kebutuhan primer bagi hati.
Berkenaan dengan masalah ini, kita akan menyampaikan 5 ketaatan yang sangat pentinguntuk mendapatkan kembali hati kita yang hilang, menghidupkan dan sekaligus membersihkanhati:

1.      Zikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an
“Orang-orang beriman hatinya akan tenang dengan zikrullah, dan ingatlah, hanya denganmengingat Allah (zikrullahlah) hatimu akan tenang.” (QS. Al-Ra’d : 28)
            Subhanallah!! Luar biasa sekali, sangat jelas bahwa hanya dengan mengingat Allah lah seseorang akan mendapatkan ketenangan hidup, bukan sebaliknya dengan cara yang keliru, misalnya agar hati tenang ia harus pergi ke pantai, bertamasya, berkemah, apalagi ke tempat yang ramai dengan maksiat.
            Pada hakikatnya, zikrullah merupakan obat yang sangat ampuh dan efektif untuk mengobati hati yang kotor, menemukan kembali fungsi hati yang hilang serta menentramkan jiwa.
Dengan catatan bahwa kita harus melakukannya dengan penuh rasa ketundukan, kepasrahan, rasa takut berbalut dengan rasa cemas, dengan kata lain harap-harap cemas.
Karena jika seseorang enggan berzikir, sudah bisa dideteksi bahwa dalam hatinya masih ada penyakit, mungkin saja hatinya sedang hilang dibawa kesombongannya. Makanya, Rasulullah SAW selalu menganjurkan kita untuk melakukan zikrullah secara rutin dalam setiap aktivitas.
Zikir ialah makanan bagi hati orang-orang arif. Adapun faedah-faedah zikir yaitu zikir bisa mengusir dan mengalahkan setan, mendatangkan ridha Allah, menghilangkan kesedihan hati, membahagiakan dan melapangkan hati, menguatkan hati dan organ tubuh, mencerahkan wajah dan menyinari hati, membukakan pintu rezeki, menjadikan pelakunya tampak berwibawa, berseri-seri, dan ceria.
Selain itu, zikir juga bisa membuahkan rasa cinta, menumbuhkan muraqabah(perasaan selalu diawasi Allah), mendatangkan inabah (dorongan jiwa ingin selalu kembali kepada Allah) dan menyebabkan dekat kepada Allah.
Orang yang berzikir ingat kepada Allah, maka Allah pun mengingatnya, menjaditeman-Nya, membangga-banggakannya, dan bersama-sama malaikat bershalawat untuknya.
Nabi Musa A.s berkata (dalam munajadnya kepada Allah), yang artinya, “Ya Allah, apakah Engkau dekat sehingga aku dapat bicara pada-Mu? Ataukah Engkau jauh sehingga aku harus mencari-Mu? Sebab, sesungguhnya aku merasakan suara-Mu, tetapi aku tidak( dapat) melihat-Mu, maka di manakah Engkau?”
Allah berfirman, yang artinya, “Aku di belakangmu, di depanmu, di sebelah kanan dan di sebelah kirimu. Wahai Musa, Aku adalah teman duduk hamba-Ku ketika ia berzikir kepada-Ku, dan Aku bersamanya jika ia berdo’a kepada-Ku.” (Kanzul Ummat, hadits no. 1871, hal 28).
Zikir menyebabkan hati hidup, membuat hati bersih, mengkilat, membersihkan dosa, mendatangkan rahmat dan ketenangan, serta zikir bisa memalingkan hati dari ghibah, adu domba, berbohong, serta perbuatan keji dan batil.
Zikir ialah tanaman di surga. Anugerah dan keutamaan yang disediakan bagi orang yang berzikir tidak disediakan dalam amal perbuatan lain.
Membiasakan zikir kepada Allah membuahkan keamanan dari dilupakan Allah, yang merupakan faktor kecelakaan hamba di dunia dan akhirat. Karena, lalai dari Rabb, menyebabkan lalai pada diri sendiri dan mashlahatnya.
Zikir tidak hanya bisa mengobati hati yang keras, namun memberikan kekuatan bagi hati dan badan pelakunya.
Memperbanyak zikir bisa menjadikan aman dari wilayah kemunafikan. Karena orang-orang munafik sedikit sekali berzikir kepada Allah (Astaghfirullah, semoga kita tidak termasuk dalam golongan ini).
Zikir merupakan amal yang menyimpan kenikmatan tiada tara. Bahkan, ia lebih utama daripada doa. Dan, pada hari kiamat nanti, membiasakan zikir bisa memperbanyak saksi bagi hamba yang melakukannya.
Zikir bisa dilakukan dengan hati atau lisan. Zikir yang paling utama ialah ketika ada kecocokan antara hati dan lisan. Hanya saja perlu diingat, zikir dengan hati saja lebih utama daripada zikir hanya dengan lisan.
Sungguh, zikrullah yang paling utama adalah tilawah; membaca dan memahami ayat-ayat Allah SWT. Sebab, ia mengandung obat bagi hati. Salah satu fungsi Al-Qur’an yang kita kenal adalah syifa’ (penawar) dan rahmat bagi kaum yang beriman. Sebagaimana firman-Nya, yang artinya,
“Dan kami turunkan Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang zalim (Al-Qur’an) itu hanya menambah kerugian.” (QS. Al-Isra’ : 82)
Kemudian Ibnul Qayyim berkata, “Carilah hatimu (yang hilang) pada tiga tempat: saat mendengarkan Al-Qur’an, ketika dalam majlis zikir (ilmu), dan pada waktu sedang menyendiri. Jika kamu tidak mendapatinya pada ketiga tempat tadi, maka mohonlah kepada Allah agar kamu diberi hati, karena berarti kamu tidak memiliki hati lagi (hilang).”
              Sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya,
          ”Dan Kami turunkan Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang  zhalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra’: 82).

2.      Istighfar dan bertaubat (akan dibahas pada bab khusus)
Istighfar ialah memohon ampunan, sedangkan ampunan ialah penjagaan dan penutup kejelekan dosa. Artinya, Allah menutupi dosa hamba sehingga Dia tidak mengeksposnya di dunia dan menutupinya di akhirat. Bahkan, Dia menghapus siksa dosanya berkat anugrah dan rahmat-Nya.
Istighfar kerapkali disebutkan dalam Al-Qur’an. Ia adakalanya diperintahkan, sebagaimana firman Allah, yang artinya,
”Dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzzammil : 20)
Seringkali kata istighfar disandingkan dengan kata taubat. Dalam konteks ini, istighfar merupakan ungkapan untuk memohon ampunan dengan lisan, sedangkan taubat sebagai ungkapan pelepasan dosa dengan hati dan anggota badan.
Istighfar hukumnya seperti doa. Apabila Allah menghendaki, Dia akan mengabulkan dan mengampuni pelakunya.

3.      Berdoa
Allah SWT berfirman, yang artinya, ”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku)...” (QS. Al-Baqarah : 186)
Maha Suci Allah Zat yang Maha Agung. Pemilik kemuliaan yang luas dan kedermawanan yang tiada henti. Yang menjadikan permohonan hamba terhadap kebutuhan-kebutuhannya dan pemenuhan keinginannya sebagai ibadah kepada-Nya.
Yang memerintahkan hamba-Nya agar berdoa, mencela mereka yang meninggalkanya dengan seburuk-buruk celaan, dan menganggap mereka orang yang sombong kepada-Nya, serta memberinya banyak peringatan yang paling keras. Allah SWT berfirman, yang artinya,
”Dan Rabb-mu berfirman, ’Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (tidakberdoa kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’.” (QS. Al-Mu’min: 60).
Ibadah artinya patuh dan tunduk, dan doa merupakan manifestasi bagaimana hamba yang butuh dan lemah memperlihatkan kebutuhan dan hajat.
Ada beberapa etika dalam berdoa, yaitu:
  1. Mantap dalam berdoa, yakin akan dikabulkan dan percaya akan diterima. Nabi SAW bersabda, yang artinya, ”Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan bahwa doa kalian dikabulkan. Ketahuilah bahwa Allah tidak menerima doa yang keluar dari hati yang lalai lagi bermain-main.” (HR. At-Tirmizi).
  2. Tidak bosan berdoa dan mengulanginya tiga kali.
  3. Tidak terburu-buru minta segera diperkenankan doanya.
  4. Menempatkan doanya pada waktu-waktu yang mulia.
Misalnya, hari Arafah, bulan Ramadhan, hari Jum’at, waktu sahur (menjelang subuh), ketika merapatkan barisan fi sabilillah, ketika sujud,  ketika turun hujan--karena hujan disebut sabagai rahmat-Nya.
  1. Melirihkan suara antara samar dan jelas, tenang, serta menampakkan rasa butuhAllah SWT berfirman, yang artinya,  ”Berdoalah kepada Rabb-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raf : 55).
  2. Memulai doa dengan memuji Allah dengan nama-nama dan sifat-Nya, lalu membaca shalawat untuk Nabi, serta menutupnya dengan bacaan shalawat dan pujian pula.
  3. Memperbaiki makanan.
Makanan yang haram menjadi pemicu tidak dikabulkannya doa. Begitu pun jika ia tumbuh dengan barang haram, minuman dan pakaiannya pun haram. “.......Kemudian Rasulallah SAW menceritakan perihal seseorang yang menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut masai dan penuh debu. Ia menadahkan kedua tangannya ke langit sembari berkata,’Wahai Tuhan! Wahai Tuhan!’ sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakainnya haram, dan perutnya dikenyangkan dengan makanan yang haram, maka bagaimana mungkin permohonannya dikabulkan?’” (HR. Imam Muslim).
  1. Menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dan tidak membebani dirinya dengan kalimat bersajak saat berdoa.
  2. Etika batin yang merupakan dasar dikabulkannya doa.
Etika tersebut ialah taubat, membalas keterzaliman, menghadap Allah, dan memenuhi perintah-Nya.

4.      Bershalawat untuk Nabi
Allah SWT berfirman, yang artinya,  ”Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepada-Nya.” (QS. Al-Ahzab: 56).
Maksud ayat ini ialah, Allah memberitahu kepada para hamba-Nya tentang kedudukan hamba dan Nabi-Nya di hadapan malaikat di langit di sisi para malaikat yang muqarrabin (didekatkan kepada Allah).
Ibnul Qayyim mengatakan, shalawat yang diperintahkan Allah dalam ayat di atas merupakan tuntutan Allah terhadap apa yang Dia beritahukan mengenai shalawat-Nya dan shalawat para malaikat-Nya, yaitu pujian untuk beliau, menampakkan keutamaan dan kemuliaan beliau, serta keinginan memuliakan dan mendekat kepada beliau.
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, yang artinya,”Barangsiapa membaca shalawat satu kali untukku, maka Allah bershalawat sepuluh kali untuknya.” (HR. Muslim).
Faedah dan buah dari shalawat untuk Nabi SAW, yaitu:
1.      Menunaikan perintah Allah, bersama-sama dengan-Nya dan para malaikat dalam membacakan shalawat.
2.      Dengan membaca satu shalawat untuk Nabi akan mendapat sepuluh shalawat dari Allah.
3.      Shalawat menjadi salah satu sebab mendapat syafaat Nabi, baik disertai dengan permohonan al-wasilah untuk Nabi atau tidak.
4.      Menjadi salah satu sebab seorang hamba memperoleh kecukupan.
5.      Shalawat mengantarkan pembacanya menuju surga.
6.      Allah mengabadikan pujian baik dan berkah bagi pembacanya.
7.      Shalawat ialah sebab kelanggengan cinta hamba kepada Rasul-Nya, menambah dan melipatgandakannya.
Waktu yang tepat untuk membaca shalawat yaitu dalam shalat ketika tasyahud, ketika shalat jenazah (sesudah takbir kedua), ketika disebut nama Nabi SAW, ketika masuk dan keluar masjid, ketika mendengar adzan, ketika berdoa, pada hari Jum’at, ketika khutbah, beranjak dari majelis, dan ketika seseorang melamar wanita untuk menikah.

5.      Memperbanyak shalat  dan  Shalat malam
Ada sebuah hadits yang dengannya Rasulullah membuat perumpamaan suatu keadaan seseorang dalam aktivitas hariannya.
Beliau bersabda, yang artinya, “Bagaimana menurut kalian kalau ada sebuah sungai di depan salah seorang kamu dan ia mandi di sungai tersebut lima kali setiap harinya, apakah ia masih mempunyai kotoran? Sahabat berkata, “Tidak ada lagi kotoran sedikit pun.” Rasulullah menjawab, “Demikianlah perumpamaan shalat lima waktu yang mana dengannya Allah membersihkan kesalahan-kesalahan. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hal ini sebuah komentar dari Ibnul Arabib, “Letak kemiripan permisalan Rasulullah SAW ini adalah bahwasanya daki dan kotoran hilang kalau dibasuh dengan air sungai (banyak dan terus menerus) apalagi berulang kali.
Demikian dengan dosa dan kesalahan pasti hilang kalau dibersihkan dengan shalat. Shalat yang khusyuk bukan hanya menyucikan jiwa, bahkan akan membuat orang tersebut bahagia serta mengantarkannya pada keberhasilan. Sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya,“Sungguh beruntung orang-orang mukmin, orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mukminun : 1-2)

Dirikan Salat Malam
Allah SWT berfirman, yang artinya,
”Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Raab-nya dengan pemuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rezki yang Kami berikan.” (QS. As-Sajdah: 16).
Shalat malam hukumnya sunnah muakkad. Begitu besarnya keutamaan shalat malam sehingga Rasulullah juga ikut membangunkan putri dan menantunya pada waktu yang dijadikan Allah sebagai ketenangan.
Shalat malam sangat berat untuk dikerjakan oleh manusia, kecuali bagi yang diberi pertolongan Allah untuk menunaikannya. Berkaitan dengan lahir yaitu:
  1. Tidak memperbanyak makan, sehingga memperbanyak minum, lalu banyak tidur.
  2. Jangan letihkan tubuh pada siang hari dengan pekerjaan-pekerjaan yang melelahkan organ tubuh dan otot. Karena semua itu bisa mengundang tidur.
  3. Jangan pernah meninggalkan tidur pada siang hari untuk memudahkan shalat malam.
  4. Jangan banyak melakukan dosa pada siang hari, karena hal itu bisa mengeraskan hati dan menghalanginya dari sebab-sebab turunnya rahmat.
Adapun sebab-sebab yang berkaitan dengan batin, yaitu:
  1. Keselamatan hati dari perbuatan-perbuatan bid’ah, iri kepada kaum muslimin, dan terlalu berhasrat pada dunia.
  2. Banyak takut kepada Allah menyebabkan hati pendek angan-angan.
  3. Mengetahui keutamaan shalat malam sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits.

6.    Menjauhi dosa dan maksiat
Mengulang kembali apa yang pernah dikatakan oleh syaikh Ibn ‘Athaillah, “Takutlah bahwa bila kebaikan Allah selalu engkau peroleh pada saat engkau berbuat maksiat kepada-Nya, lambat laut itu akan menghancurkanmu.”
Faktor utama yang menghitamkan hati hingga menjadi keras, tumpul dan rusak (hilang) adalah dosa dan maksiat. Ibarat saldo di bank, setiap satu dosa akan menambah saldo direkening hati berupa kekotoran, hitam, maka semakin banyak dosa dan maksiat hati akan semakin hitam. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda, yang artinya,
“Setiap mukmin jika berbuat dosa akan muncullah satu noda hitam di hatinya, jika bertaubat dan menjauhinya, dan meminta ampun hatiya kembali bersih, sebaliknya jika selalu bertambah dosa itu, bertambah dosa itu, bertambah pula nodanya hingga penuh berkarat. Sebagaimana yang disebutkan Allah SWT dalam Al-Qur’an, ‘Sekali-kali tidak bahkan hati mereka berkarat disebabkan oleh apa yang mereka perbuat’.“ (HR. Ibnu Majah, At-Tirmidzi).
Maka dari itu setiap mukmin wajib meninggalkan maksiat dan bertaubat dari dosa. Kemudian meninggalkan hal-hal yang sia-sia, syubhat dan yang mengundang syahwat. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya,
“Di antara kebaikan keislamana seseorang adalah meninggalkan segala yang tidak bermanfaat.”(HR. Ibnu Majah, At-Tirmidzi)
Abu Abdillah mengatakan, “Termasuk meninggalkan hal yang tidak perlu, baik perkataan, pandangan, pendengaran, bersikap kasar, berjalan, berpikir dan seluruh gerak anggota lahiriah dan bathin.
Semoga dengan mendapatkan keterangan ilmu dan faedah untuk membersihkan dan menghidupkan hati, sehingga kita kembali mendapatkan hati yang lebih bersinar dengan cahaya ilahi.

7.    Bergaulah dengan orang-orang shaleh (baik)
Tidak bisa dipungkiri pergaulan, lingkungan akan membentuk prilaku dan sikap seseorang. Kecenderungan hati seperti kebanyakan teman sepergaulannya. Sudah sangat bisa ditebak jika ingin mengetahui seseorang, agamanya, maka lihat teman sepergaulannya, begitulah inti pesan Rasulullah.
Oleh karena itu untuk mengobati hati, menemukannya kembali haruslah berusaha memilih pergaulan dan teman yang baik (shaleh), seperti petuah-petuah orang shaleh untuk mengobati hati ada beberapa perkara yang harus dilakukan, salah satunya berkumpullah dengan orang shaleh, lengkapnya :
            1.  Baca Al-Qur’an dan maknanya
            2.  Shalat malam dirikanlah
            3.  Berkumpullah dengan orang shaleh
            4.  Perbanyaklah berpuasa
            5.  Zikir malam perpanjanglah



Tidak ada komentar:

Posting Komentar