Minggu, 16 November 2014

Organisasi dan Prestasi

Di antara pertanyaan yang sering mengemuka ketika saya bicara di beberapa training dan perbincangan dengan mahasiswa adalah bagaimana caranya kita berorganisasi dan pada saat yang sama juga berhasil menjaga prestasi akademik di kampus. Sebab pemeo yang berkembang bahwa kalau ada mahasiswa yang melejit di organisasi maka akan menurun di prestasi, dan begitu pun sebaliknya. Ada semacam peng-kambing-hitam-an yang mesti harus memilih salah satunya kalau ingin menggenggam keberhasilan.

Pada tulisan kali ini saya akan ketengahkan tiga orang teman yang menurut saya cukup mewakili dari sosok mahasiswa – berbeda angkatan dan universitas – yang berhasil merukunkan prestasi dan organisasi dalam dirinya, yang oleh sebagian mahasiswa masih mempersengketakannya.

Pertama, namanya Aditya Fernando. Teman kita yang satu ini jurusan Bahasa Inggris di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska Riau). Beberapa waktu lalu beliau ke Jerman dalam program Indonesian-German Intercultural Summer School 2013, dan pada saat bersamaan juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Kedua, Indra Purnama. Ada beberapa organisasi yang pernah digelutinya semasa Strata satu; ketua Hima jurusan Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Riau (UR), Wakil Gubernur FKIP, dan Forum Lingkar Pena (FLP Riau). Sisi akademiknya pernah mendapatkan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 4.00, dan kemudian melanjutkan Strata dua ke Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Juga mendapat kesempatan belajar setahun di Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT). Dan beberapa waktu yang lalu dia tampil di talk show Kick Andy sebagai salah satu anak muda terdidik yang membina warga di perkampungan.

Ketiga, Harif Supriyadi. Lulus dari UIN Suska Riau 2011 pada jurusan Pendidikan Bahasa Arab dan melanjutkan Strata dua di negeri Para Nabi, Mesir. Semasa Strata satu ia pernah menjadi delegasi Indonesia pada ajang debat dalam bahasa Arab di Malaysia. Pada tahun-tahun itu juga Harif Supriyadi ini juga diamanahkan sebagai ketua Forum Studi Nurul Ilmi (FS Nuri) Fakultas Tarbiyah dan tercatat sebagai salah satu pengurus di Kesatuan Aksi Muslim Indonesia (KAMMI) daerah Riau.

Saya yakin masih banyak lagi mahasiswa-mahasiswa yang mampu mendamaikan antara organisasi dan prestasi akademiknya, tapi paling tidak dari tiga orang tersebut layak kita jadikan prototype mahasiswa ideal.

Menajemen waktu, inilah yang mesti didudukkan terlebih dahulu. Kapan kita berfokus pada buku-buku perkuliahan, belajar, menelaahnya, mempersiapkan tugas presentasi, dan kapan waktunya memberikan kontribusi terbaik pada komunitas atau organisasi yang kita bagian darinya.

Prioritas, ada saatnya memang kita harus ada ketegasan memilih di antara agenda organisasi atau perkuliahan, misalnya ketika ujian. Dan pada saat yang lain mungkin juga menuntut kita meninggalkan tugas perkuliahan – dalam waktu yang relatif pendek – karena organisasi lebih membutuhkan. Maka di sini kuncinya kecerdasan sensitivitas.

Target atau perencanaan, inilah yang oleh sebagian mahasiswa dilalaikan. Tidak adanya kejelasan kapan akan menuntas studinya, dan pada saat yang sama juga tidak mengetahui arah perjalanan berikutnya. Ketidakjelasan itulah di antara penyebab berleha-leha, sehingga di organisasi juga tidak belajar banyak dan tidak juga menguasai spesifikasi di jurusan yang menjadi pilihannya.

Bagaimana dengan penulis? Saya diamanahkan sebagai Presiden mahasiswa Uin Suska Riau di semester tujuh, pada saat yang sama sebagai ketua FLP Riau, dan alhamdulillah saya selesaikan studi pada semester sembilan dengan IPK 3.38.

Wamdi Jihadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar