Suatu hari di tahun 2013 di hadapan mahasiswa dan dosen pada acara Kuliah umum Wirausaha Muda Mandiri di Jakarta Convention Center (JCC)
Prof. B.J Habibie menyampaikan bahwa setelah sepuluh tahun usia
pernikahannya dengan ibu Ainun di tahun 1972 dia membuat rumah di Jerman
yang pekarangannya satu setengah hektar dengan indoor swimming pool dan tiga tahun kemudian dia memiliki private jet,
“Jangan lupa,” ujarnya, “saya membuatnya itu di Jerman, negara yang
orangnya unggul semua. Tidak akan anda dipilih menjadi pemimpin dari
perusahaan jikalau anda hanya sepuluh persen lebih jagoan dari orang
Jermannya. Tidak mungkin. Baru dia akan tercengang kalau anda dua kali,
tiga kali lebih hebat dari dia.”
Semakin
bertambah usia kita semakin jauh kita meninggalkan masa lalu, dan
semakin mendekatkan kita dengan kematian. Kalau Tuhan memperkenankan
suatu hari nanti kita akan tiba di masa tua, masa di mana kita secara
fisik pasti melemah. Namun di kala itu produktifas kita semasa muda akan
memasuki masa kesejaharahannya. Apakah orang-orang melihat kita sebagai
teladan kesuksesan dan berharap menjadi cucu – paling tidak cucu
idiologis – atau justeru menjadi ibroh dari salah satu kegagalan anak
manusia yang semasa mudanya terbenam bagi dirinya sendiri.
Setiap
waktu yang kita lalui kita dihadapkan dengan pilihan, pilihan untuk
hanya melakukan atau mengerjakan sesuatu dengan biasa-biasa saja atau
membuat sesuatu tersebut berbeda, bahkan tidak saja berbeda dengan
orang-orang yang hidup dalam satu masa, namun bahkan berbeda dengan apa
yang telah diperbuat umat manusia di abad-abad sebelumnya.
Bekerja
keras, membangun relasi, meningkatkan kapabilitas, berbagi, menjaga
hubungan baik dengan pasangan, orang tua dan Tuhan sepertinya di antara
prasyarat seorang untuk menoreh keberhasilan. Bekerjalah kita melebihi
target dan apa yang dikerjakan oleh umumnya manusia. Memang melelahkan,
namun adalah sesuatu yang imposible ketika kita melakukan sesuatu
yang sama namun berharap hasil yang berbeda. Kembangkan terus relasi di
setiap kesempatan yang kita miliki dan yang tak kalah pentingnya
setelah membangun relasi tersebut adalah memeliharanya, karena di sini
juga banyak manusia yang terpleset. Setelah itu janganlah pernah kita
berhenti untuk belajar, karena ia merupakan identitas kemanusiaan kita.
Sekolah atau kuliah di ruang-ruang tertutup boleh jadi memang telah
usai, namun bukankah setiap tempat yang kita kunjungi, setiap orang yang
kita jumpai adalah guru dan itulah belajar dalam makna seutuhnya.
Kemudian
jangan lupa kita berbagi dengan apa yang kita miliki; harta, tenaga dan
pengetahuan. Cerita orang-orang yang sampai ke puncak kebesaran dan
yang hidup dalam memori umat manusia sesungguhnya adalah cerita
orang-orang yang gemar berbagai. Terakhir yang tak kalah pentingnya
adalah memuliakan orang tua, setia dengan pasangan kita dan mengiyakan
seluruh ucapan Tuhan.
“Raihlah
puncak-puncak tinggi itu, puncak-puncak yang jangkauannya sulit, yang
tetes keringatnya banyak, yang kadang terasa pedih, yang bebannya
berat,” ujar Anies Baswedan penggagas Indonesia Mengajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar