Minggu, 16 November 2014

Jalan Mendaki


Suatu hari di tahun 2013 di hadapan mahasiswa dan dosen pada acara Kuliah umum Wirausaha Muda Mandiri di Jakarta Convention Center (JCC) Prof. B.J Habibie menyampaikan bahwa setelah sepuluh tahun usia pernikahannya dengan ibu Ainun di tahun 1972 dia membuat rumah di Jerman yang pekarangannya satu setengah hektar dengan indoor swimming pool dan tiga tahun kemudian dia memiliki private jet, “Jangan lupa,” ujarnya, “saya membuatnya itu di Jerman, negara yang orangnya unggul semua. Tidak akan anda dipilih menjadi pemimpin dari perusahaan jikalau anda hanya sepuluh persen lebih jagoan dari orang Jermannya. Tidak mungkin. Baru dia akan tercengang kalau anda dua kali, tiga kali lebih hebat dari dia.”

Semakin bertambah usia kita semakin jauh kita meninggalkan masa lalu, dan semakin mendekatkan kita dengan kematian. Kalau Tuhan memperkenankan suatu hari nanti kita akan tiba di masa tua, masa di mana kita secara fisik pasti melemah. Namun di kala itu produktifas kita semasa muda akan memasuki masa kesejaharahannya. Apakah orang-orang melihat kita sebagai teladan kesuksesan dan berharap menjadi cucu – paling tidak cucu idiologis – atau justeru menjadi ibroh dari salah satu kegagalan anak manusia yang semasa mudanya terbenam bagi dirinya sendiri.

Setiap waktu yang kita lalui kita dihadapkan dengan pilihan, pilihan untuk hanya melakukan atau mengerjakan sesuatu dengan biasa-biasa saja atau membuat sesuatu tersebut berbeda, bahkan tidak saja berbeda dengan orang-orang yang hidup dalam satu masa, namun bahkan berbeda dengan apa yang telah diperbuat umat manusia di abad-abad sebelumnya.

Bekerja keras, membangun relasi, meningkatkan kapabilitas, berbagi, menjaga hubungan baik dengan pasangan, orang tua dan Tuhan sepertinya di antara prasyarat seorang untuk menoreh keberhasilan. Bekerjalah kita melebihi target dan apa yang dikerjakan oleh umumnya manusia. Memang melelahkan, namun adalah sesuatu yang imposible ketika kita melakukan sesuatu yang sama namun berharap hasil yang berbeda. Kembangkan terus relasi di setiap kesempatan yang kita miliki dan yang tak kalah pentingnya setelah membangun relasi tersebut adalah memeliharanya, karena di sini juga banyak manusia yang terpleset. Setelah itu janganlah pernah kita berhenti untuk belajar, karena ia merupakan identitas kemanusiaan kita. Sekolah atau kuliah di ruang-ruang tertutup boleh jadi memang telah usai, namun bukankah setiap tempat yang kita kunjungi, setiap orang yang kita jumpai adalah guru dan itulah belajar dalam makna seutuhnya.

Kemudian jangan lupa kita berbagi dengan apa yang kita miliki; harta, tenaga dan pengetahuan. Cerita orang-orang yang sampai ke puncak kebesaran dan yang hidup dalam memori umat manusia sesungguhnya adalah cerita orang-orang yang gemar berbagai. Terakhir yang tak kalah pentingnya adalah memuliakan orang tua, setia dengan pasangan kita dan mengiyakan seluruh ucapan Tuhan.

“Raihlah puncak-puncak tinggi itu, puncak-puncak yang jangkauannya sulit, yang tetes keringatnya banyak, yang kadang terasa pedih, yang bebannya berat,” ujar Anies Baswedan penggagas  Indonesia Mengajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar