Minggu, 16 November 2014

Ruang Tanggal dan Bulan


Semasa di pesantren dulu biasanya kalau ada teman yang bertambah usianya maka bersiap-siaplahlah menjadi bulan-bulanan guyuran air sabun yang dicampur dengan telur. Bahkan beberapa teman-teman yang lainnya sudah mempersiapkan telur tambahan satu persatu yang nanti pas waktu dan situasinya akan dilemparkan kepada teman yang bertambah usianya tersebut, dan sasaran yang paling empuk itu adalah kepala. Saya pun termasuk salah satu yang menjadi korbannya ketika tanggal dan bulan kelahiran saya itu mereka kantongi.

Menjelang hari-hari pertambahan usia kala itu kita bukannya tambah senang, namun khawatir. Tidak satu pun yang bisa luput, karena tanggal dan bulan kelahiran setiap kita kala itu di inventarisir oleh salah seorang teman dan di setiap bulan baru datang sengaja di buka untuk melihat jatahnya siapa di bulan tersebut. Dan setelah berlalu sekian tahun ulah seperti itu terkadang membuat tersenyum, sebuah ungkapan mengatakan, “We don’t remember days, but remember moments.”

Ada yang mengatakan bahwa umur kita bukan bertambah tapi berkurang, ya itu hanya cara pandang saja. Bagaimana pun dengan kedatangan tahun yang baru usia kita dari sebelumnya bertambah, walau pun dalam catatan Tuhan yang ada hanyalah pengurangan dengan logika bahwa persediaan usia itu bersifat tetap.

Kalau pun kita berdoa minta dipanjang usia itu pun tidak ada persoalan, bahwa suatu waktu nabi pernah mendoakan Anas bin Malik supaya dipanjangkan usianya. Dan sejarah mencatat bahwa usia Anas bin Malik mencapai seratus tiga tahun, dialah yang terakhir wafat dari kalangan sahabatnya Rasulullah. Dan menariknya walaupun usia itu bersifat tetap jumlahnya, maka tidak satu pun dari kita mendapatkan bocorannya, karena itu bermohonlah.

Namun esensi terbesar dari meminta pertambahan usia adalah produktivitas dari usia tersebut. Itu sebabnya nabi mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang panjang usianya dan baik amalnya, dan sebaliknya seburuk-buruk manusia juga manusia yang panjang usianya namun buruk amalnya.

Dalam sejarah kemanusiaan pun panjangnya usia seseorang bukan jaminan ia unggul dalam pergolakan hidup ini, bahkan banyak sekali orang-orang yang punya peran besar wafat ketika masih muda. Beberapa tokoh penggerak bangsa ini membuktikan;  Wage Rudolf Soepratman berusia 35 tahun, jendral Soedirman 34 tahun, Chairil Anwar 27 tahun, dan  Raden Adjeng Kartini hanya berusia 25 tahun.

Walaupun dalam sejarah nabi-nabi kita menemukan nabi yang berusia seribu tahun lebih, seperti nabi Nuh, dan bapak manusia pertama Adam juga berusia 950 tahun. Namun dipanjangnya usia dengan keteguhan iman yang tetap di dada adalah unggul yang tentunya berlipat ganda.

Dan jangan lupa, bahwa yang ada hanyalah ulang tanggal dan bulan, bukan tahun.


Wamdi Jihadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar