Semasa
di pesantren dulu biasanya kalau ada teman yang bertambah usianya maka
bersiap-siaplahlah menjadi bulan-bulanan guyuran air sabun yang dicampur
dengan telur. Bahkan beberapa teman-teman yang lainnya sudah
mempersiapkan telur tambahan satu persatu yang nanti pas waktu dan
situasinya akan dilemparkan kepada teman yang bertambah usianya tersebut,
dan sasaran yang paling empuk itu adalah kepala. Saya pun termasuk
salah satu yang menjadi korbannya ketika tanggal dan bulan kelahiran
saya itu mereka kantongi.
Menjelang
hari-hari pertambahan usia kala itu kita bukannya tambah senang, namun
khawatir. Tidak satu pun yang bisa luput, karena tanggal dan bulan
kelahiran setiap kita kala itu di inventarisir oleh salah seorang teman
dan di setiap bulan baru datang sengaja di buka untuk melihat jatahnya
siapa di bulan tersebut. Dan setelah berlalu sekian tahun ulah seperti
itu terkadang membuat tersenyum, sebuah ungkapan mengatakan, “We don’t
remember days, but remember moments.”
Ada
yang mengatakan bahwa umur kita bukan bertambah tapi berkurang, ya itu
hanya cara pandang saja. Bagaimana pun dengan kedatangan tahun yang baru
usia kita dari sebelumnya bertambah, walau pun dalam catatan Tuhan yang
ada hanyalah pengurangan dengan logika bahwa persediaan usia itu
bersifat tetap.
Kalau
pun kita berdoa minta dipanjang usia itu pun tidak ada persoalan, bahwa
suatu waktu nabi pernah mendoakan Anas bin Malik supaya dipanjangkan
usianya. Dan sejarah mencatat bahwa usia Anas bin Malik mencapai seratus
tiga tahun, dialah yang terakhir wafat dari kalangan sahabatnya
Rasulullah. Dan menariknya walaupun usia itu bersifat tetap jumlahnya,
maka tidak satu pun dari kita mendapatkan bocorannya, karena itu
bermohonlah.
Namun
esensi terbesar dari meminta pertambahan usia adalah produktivitas dari
usia tersebut. Itu sebabnya nabi mengatakan bahwa sebaik-baik manusia
adalah yang panjang usianya dan baik amalnya, dan sebaliknya
seburuk-buruk manusia juga manusia yang panjang usianya namun buruk
amalnya.
Dalam
sejarah kemanusiaan pun panjangnya usia seseorang bukan jaminan ia
unggul dalam pergolakan hidup ini, bahkan banyak sekali orang-orang yang
punya peran besar wafat ketika masih muda. Beberapa tokoh penggerak
bangsa ini membuktikan; Wage Rudolf Soepratman berusia 35 tahun,
jendral Soedirman 34 tahun, Chairil Anwar 27 tahun, dan Raden Adjeng
Kartini hanya berusia 25 tahun.
Walaupun
dalam sejarah nabi-nabi kita menemukan nabi yang berusia seribu tahun
lebih, seperti nabi Nuh, dan bapak manusia pertama Adam juga berusia 950
tahun. Namun dipanjangnya usia dengan keteguhan iman yang tetap di dada
adalah unggul yang tentunya berlipat ganda.
Dan jangan lupa, bahwa yang ada hanyalah ulang tanggal dan bulan, bukan tahun.
Wamdi Jihadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar