Hidup ini
bak roda yang senantiasa berputar dan terus berputar. Kadang berada di atas dan
terkadang pula berada di bawah. Suatu ketika susah dan suatu ketika juga kita
akan senang. Semua akan melawatinya seperti roda. Maka buatlah hidup ini
senantiasa bermanfaat bagi orang lain dalam kondisi apa pun. Yup, mari jadikan
hidup kita berguna disaat susah, bermanfaat diwaktu senang. Itulah sehelai hikmah
di balik prilaku buah labu.
Mukmin yang
benar imannya adalah bukan hanya ketika dihadapkan dengan kondisi kritis saja imannya
tetap mekar dan berbunga. Akan tetapi, alangkah indahnya saat dihidangkan
sketsa kehidupan dalam bentuk kesenangan dan kemewahan, iman mereka juga tetap
tumbuh subur berbuah. Itulah setetes air hikmah yang ada pada prilaku ikan di
laut.
Dunia
adalah panggung ujian. Banyak yang berhasil menempuh ujian itu serta tidak
sedikit pula yang gagal dalan ujian itu. Mereka gagal karena telah berpaling
dari panduan yang telah Allah SWT tentukan, yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal
inilah yang menyebabkan mereka keluar dari kebenaran dan sulit membedakan yang
benar dan salah. Bahkan ada yang terus berlari dalam ketidaktahuannya. Tidak tahu
di mana salah dan benar karena telah meninggalkan panduan hidup mereka.
Akhirnya yang menjadi panduan sekaligus penuntun mereka adalah hawa nafsu.
Sehingga apa yang baik menerut kasat mata dan di hati itulah yang diikuti. Hawa
nafsu kadang menjadi Tuhan.
Sari Makna: jujur dalam
melangkah, lurus, teguh pendirian, tidak lupa asal kehidupan, hidup sesaat
penuh bermanfaat, dan tidak mengikuti hawa nafsu.
“Maka
buatlah hidup ini senantiasa bermanfaat bagi orang lain dalam kondisi apa pun. Yup,
mari jadikan hidup kita berguna di saat susah, bermanfaat di waktu senang.” (Rizal Al-Azqy)
Oleh: Rizal Al-Azqy (Dalam bukunya yang disadur dalam beberapa tulisan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar