Kamis, 13 November 2014

Kisah Inspiratif/Ibu sebagai best motivator

Ibu sebagai best motivator

Banyak dalam hidup ini kisah dan perjalanan yang mungkin membuat kita lelah dan tak berdaya. Namun, bagi sebagian jiwa yang memiliki motivasi untuk menjadikan hidup ini lebih bermakna, mereka akan teguh walau badai silih berganti, kekurangan yang tak kunjung cukup, dan ketidak sempurnaan. Mereka tidak berhenti melangkah sedikit pun, saling memberi motivasi dan rela berkorban agar tetap bisa bermakna. Mari renungkan kisah ini.
Di sebuah rumah sakit bersalin, seorang ibu yang baru saja melahirkan dengan penuh kebahagian berkata kepada pada seorang dokter,”Bisa saya melihat bayi saya?” ketika gendongan itu berpindah ketangannya dan ia membuka selimutnya, ibu itu menahan nafasnya. Sementara sang Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang kearah luar jendela rumah sakit. Ternyata bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Namun waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Tidak bisa dipungkiri, sindiran dari teman-temannya yang mengatakan bahwa ia manusia planet, ada yang mengatakan ia adalah titisan dewa langit karena tidak memiliki telinga.
Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang kerumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu sambil menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, “Seorang anak laki-laki mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh.” Sang ibu dengan dengan ketabahan yang luar biasa terus memotivasi si anak untuk mengembangkan potensi yang ada dan meraih prestasi yang gemilang hingga duduk di bangku perguruan tinggi.
Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman di sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya dibidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, “Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?” Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.
Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. “Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya.” Tapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telingannya,” kata dokter itu. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka. Hingga dokter itu mengatakan bahwa anak itu sudah bisa di cangkok, dan cangkokannya sudah ada disimpan beberapa waktu lamanya dari seorang donor. Mendengar berita gembira ini giranglah hati si anak, meskipun menyisakan pertanyaan siapa yang telah mendonorkan telinganya untuk dirinya. Operasi cangkok pun berjalan lancar, dan suatu perubahan penampilan dalam dirinya terjadi, hingga rasa percaya dirinya meningkat seiring dengan prestasi yang ia raih. Hal ini sekaligus mempercepat penyelesaian studi dan pencarian kerja. Kini seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia menikah dan bekerja sebagai diplomat. Ia menemui ayahnya, “Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah mengorbankan ini semua padaku. Ia telah membuat sesuatu yang besar, namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.” Ayahnya mejawab, “Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.” Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, “Sesuai perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui rahasia ini, suatu hari kau akan tahu, nak!” Tahun berganti tahun. Kedua orang tuanya tetap menyimpan rahasia.
Hingga tibalah saat yang paling menyedihkan menimpa keluarga ini, sang ibunda tercinta meninggal dunia karena sakit. Rasa kehilangan yang tidak terhingga dirasakan oleh sang anak tunggal ini, masih terbayang dalam dirinya ketika ia diejek oleh rekan-rekannya, ibunyalah yang menguatkannya. Ibunya pula yang selalu mendorong dirinya untuk selalu menunjukan prestasi gemilang dengan tidak melupakan berbagi pada sesama dan tetap bergantung pada ke-Maha kuasa-an Pencipta. Namun, kenangan itu tinggal kenangan, sang ibu tercinta telah pergi untuk selama-lamanya. Saat akan memberikan ciuman terakhir pada jasad si ibu, dengan didampingi sang ayah, sang anak sempat terkesima ketika ketika menyibakkan rambut ibunya. Ternyata sang ibu tidak memiliki telinga. Teka teki yang selama ini menganjal di dalam batinnya pun terjawab sudah. Pantaslah, jika bertahun-tahun belakangan ini sang ibu selalu berkata bahwa ia lebih suka memanjangkan rambutnya. Rupanya, ia tak ingin si anak tahu jika donor daun telinga itu adalah ibunya sediri.
Begitu besar perngorbanan sang ibu, dari melahirkan dengan taruhan nyawa, mendidik, memotivasi sampai-sampai seluruh yang ia miliki diberikannya pada buah hatinya. Bagaimana kah seharusnya sang anak, memang sang anak tak bisa membalasnya, namun berbuat baik dan berbakti adalah tugas mulia. Renungkanlah dalam-dalam wahai pembaca yang budiman.

Sumber: dari berbagai sumber



Tidak ada komentar:

Posting Komentar