“Sepudar-pudar tulisan masih lebih baik daripada pikiran yang baik, namun tak terlestarikan.” (al-Ghazali)
Suatu
subuh didinginnya kota Payakumbuh Sumatera Barat seorang mahasiswa
menelpon saya, memperkenalkan namanya, aktif di salah satu organisasi,
dan menyampaikan hajatnya hendak belajar banyak tentang organisasi dan
juga terkait dunia tulis menulis dari
kemampuan saya yang masih seujung kuku. Permintaan itu saya iyakan dan
meminta balik ke padanya terlebih dahulu untuk membaca
sebanyak-banyaknya buku, kemudian saya rekomendasikan untuk membaca
empat buah buku terlebih dahulu.
Saya
merasakan sejak Sekolah Dasar (SD) hampir tidak pernah ada pelajaran
menulis yang orientasinya betul-betul untuk mendidik seseorang agar
menjadikan menulis sebagai bagian dari hidupnya atas atau dari latar
belakang apa pun profesinya. Target yang hanya sebatas menamatkan buku –
bahasa Indonesia – dan menjawab soal-soal ujianlah yang lebih
mendominasi. Kalaupun ada maka yang jauh lebih penting dari sekedar
pelajaran menulis adalah menumbuhkan semangat menulis tersebut.
Pada
sisi yang lainnya kita sebagai orang Melayu (baca: Indonesia) mempunyai
budaya tutur yang luar biasa. Ini misalnya bisa kita lihat dari bidalan
setiap daerah yang termanifestasikan di berbagai bentuk acara
kedaerahan yang di sana digelar semacam pesta penuturan kata-kata,
seperti pantun, syair, pepatah, pidato, dan ungkapan lainnya.
Ketika
berada di bangku perkuliahan pun – dengan tugas-tugas tulis yang tiada
jeda – tidak otomatis ia menjelma menjadi budaya dan merasuk ke dalam
diri para mahasiswa menjadi habit-nya, bahkan hingga
menuntaskan tugas akhir;Skripsi, Tesis dan Disertasi. Seringkali masih
banyak yang terjebak pada penuntasan sekedar kewajiban belaka.
Hari-hari
ini kita berada di budaya visual yang mencukupkan diri dengan hanya
sekedar menonton, inilah pilihan yang membuat pikiran kita berhenti
berjalan. Hampir di setiap rumah orang-orang mematung di depan sebuah
kotak yang kita sebut Televisi, dan dari sana gaya dan budaya hidup
dimulai. Belum lagi anak-anak kita banyak yang menghabiskan usianya di
depan video game-nya, bukan sebagai pembuat, tapi sekali lagi
sebagai penikmat atau penonton. Kalau kita bandingkan ini dengan budaya
tutur, maka budaya tutur jauh membuat kita terangkat tentunya.
Dari
sekarang mulailah menyempatkan diri kita untuk menulis, karena budaya
tulis ini adalah budaya tertinggi dalam peradaban intelektual manusia.
Budaya tulis ini mempunyai saudara kandung yaitu budaya baca. Dan tidak
ada bangsa yang akan sampai ke puncak sebuah peradaban tanpa
bersungguh-sungguh dengan baca tulis ini.
Kini, setelah beberapa waktu berlalu tulisan mahasiswa yang menelpon saya di subuh itu jauh lebih baik dari sebelumnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar