Selasa, 18 November 2014

Mulailah Menulis

“Sepudar-pudar tulisan masih lebih baik daripada pikiran yang baik, namun tak terlestarikan.” (al-Ghazali)


Suatu subuh didinginnya kota Payakumbuh Sumatera Barat seorang mahasiswa menelpon saya, memperkenalkan namanya, aktif di salah satu organisasi, dan menyampaikan hajatnya hendak belajar banyak tentang organisasi dan juga terkait dunia tulis menulis dari kemampuan saya yang masih seujung kuku. Permintaan itu saya iyakan dan meminta balik ke padanya terlebih dahulu untuk membaca sebanyak-banyaknya buku, kemudian saya rekomendasikan untuk membaca empat buah buku terlebih dahulu.

Saya merasakan sejak Sekolah Dasar (SD) hampir tidak pernah ada pelajaran menulis yang orientasinya betul-betul untuk mendidik seseorang agar menjadikan menulis sebagai bagian dari hidupnya atas atau dari latar belakang apa pun profesinya. Target yang hanya sebatas menamatkan buku – bahasa Indonesia – dan menjawab soal-soal ujianlah yang lebih mendominasi. Kalaupun ada maka yang jauh lebih penting dari sekedar pelajaran menulis adalah menumbuhkan semangat menulis tersebut.

Pada sisi yang lainnya kita sebagai orang Melayu (baca: Indonesia) mempunyai budaya tutur yang luar biasa. Ini misalnya bisa kita lihat dari bidalan setiap daerah yang termanifestasikan di berbagai bentuk acara kedaerahan yang di sana digelar semacam pesta penuturan kata-kata, seperti pantun, syair, pepatah, pidato, dan ungkapan lainnya.

Ketika berada di bangku perkuliahan pun – dengan tugas-tugas tulis yang tiada jeda – tidak otomatis ia menjelma menjadi budaya dan merasuk ke dalam diri para mahasiswa menjadi habit-nya, bahkan hingga menuntaskan tugas akhir;Skripsi, Tesis dan Disertasi. Seringkali masih banyak yang terjebak pada penuntasan sekedar kewajiban belaka.

Hari-hari ini kita berada di budaya visual yang mencukupkan diri dengan hanya sekedar menonton, inilah pilihan yang membuat pikiran kita berhenti berjalan. Hampir di setiap rumah orang-orang mematung di depan sebuah kotak yang kita sebut Televisi, dan dari sana gaya dan budaya hidup dimulai. Belum lagi anak-anak kita banyak yang menghabiskan usianya di depan video game-nya, bukan sebagai pembuat, tapi sekali lagi sebagai penikmat atau penonton. Kalau kita bandingkan ini dengan budaya tutur, maka budaya tutur jauh membuat kita terangkat tentunya.

Dari sekarang mulailah menyempatkan diri kita untuk menulis, karena budaya tulis ini adalah budaya tertinggi dalam peradaban intelektual manusia. Budaya tulis ini mempunyai saudara kandung yaitu budaya baca. Dan tidak ada bangsa yang akan sampai ke puncak sebuah peradaban tanpa bersungguh-sungguh dengan baca tulis ini.

Kini, setelah beberapa waktu berlalu tulisan mahasiswa yang menelpon saya di subuh itu jauh lebih baik dari sebelumnya.

FB: Wamdi Jihadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar