Dr.
Abdullah Azzam pada suatu kesempatan mengajak para mahasiwanya ke
sebuah lapangan, dan setibanya di sana ia meminta para mahasiswanya
berlari mengelilingi lapangan tersebut, maka mereka pun berlarilah
mengitarinya. Di setiap kali putaran ada saja yang berguguran dan tidak
lagi sanggup melanjutkannya. Sampai akhirnya berkurang, berkurang dan
tidak ada lagi yang tersisa satu pun untuk melanjutkan tugas berlari tersebut.
Sesaat
kemudian sang Doktor sendiri turun dan berlari, seputaran telah lewat
dan terus berlari, berlari kembali. Sampai pada putaran ke sekian
kalinya ia telah kelelahan, namun ia terus berlari dan berlari. Dan pada
puncaknya Dr. Abdullah Azzam kala itu yang langkahnya telah gontai
terjatuh dan pingsan. Begitu siuman mahasiswanya bertanya kenapa sang
guru tetap ngotot melanjutkan padahal kelelahan sudah menghampirinya.
“Itulah (pingsan) batas maksimal dari usaha saya,” jawabnya.
Hidup
yang kita lalui ini kendali sesungguhnya berada di tangan kita sendiri.
Kita mau membawanya berlari sekencang-kencangnya, setengah berlari,
berjalan, atau berjalan sesantai-santainya setapak demi setapak itu
semua kembali kepada kita. Tapi yang pasti manusia tidak bisa menggugat
Tuhan tentang kenapa dia di lahir dari perempuan ini-bukan itu, dari
keluarga seperti ini-bukan itu. Dan sebab itu jugalah manusia dinilai
bukan dari mana dia datang, tapi di mana atau seperti apa ending perjalanannya.
Seringkali
kita mendengar bahwa hidup ini adalah pilihan. Begitu kita bangun dari
tidur kita sudah di hadapkan pada pilihan; berdoa dulu atau langsung
beraktivitas, memutuskan sekarang bergerak atau menarik selimut kembali.
Datang sebelum waktu ke tempat tugas atau membandingkan dengan atasan
yang kadang terlambat. Membaca saban hari seperti orang-orang membaca
selembar dua lembar atau memutuskan untuk membaca puluhan atau ratusan
lembar. Bekerja seperti yang lain pergi pagi dan istirahat di waktu sore
atau terus mencari peluang yang lebih banyak lagi. Segera menyerah
dengan laporan seadanya atau memaksimalkan untuk laporan sebaik-baiknya.
Dan berjibun pilihan-pilihan lainnya dalam hari-hari yang kita lalui.
Dalam
sejarah nabi-nabi tidak pernah akan kita temui pertolongan yang begitu
cepat datang dari langit sebelum mereka memaksimalkan usaha mereka
terlebih dahulu. Nabi Musa misalnya yang terus-terusan berlari
menghindari kejaran Fir’un dan bala tentaranya, dan pada akhirnya
terdesaklah Musa dan umatnya di tepi laut Merah, baru turun pertolongan
untuk memukulkan tongkatnya ke laut tersebut dan seketika terbukalah
jalan. Nabi Ibrahim bernegosiasi dulu dan memaksimalkan kemampuan
retorikanya berdebat dengan Namrud, namun raja zolim itu tetap saja
melemparkannya ke dalam api, ketika itulah Tuhan baru turun tangan.
Sebuah
puisi dari hutan Afrika, bahwa setiap kali fajar menyingsing, seekor
Singa harus berlari sekencang-kencangnya, kalau tidak ia akan kelaparan.
Setiap kali fajar menyingsing seekor Rusa harus berlari, kalau tidak ia
akan dimangsa.
Tanpa harus menjadi Singa atau Rusa maka
dalam hidup ini berlarilah setiap hari. Adalah aib kalau kita
mengerjakan sesuatu di bawah kemampuan kita sesungguhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar