Kamis, 20 November 2014

Sampai ke Batas

Dr. Abdullah Azzam pada suatu kesempatan mengajak para mahasiwanya ke sebuah lapangan, dan setibanya di sana ia meminta para mahasiswanya berlari mengelilingi lapangan tersebut, maka mereka pun berlarilah mengitarinya. Di setiap kali putaran ada saja yang berguguran dan tidak lagi sanggup melanjutkannya. Sampai akhirnya berkurang, berkurang dan tidak ada lagi yang tersisa satu pun untuk melanjutkan tugas berlari tersebut.

Sesaat kemudian sang Doktor sendiri turun dan berlari, seputaran telah lewat dan terus berlari, berlari kembali. Sampai pada putaran ke sekian kalinya ia telah kelelahan, namun ia terus berlari dan berlari. Dan pada puncaknya Dr. Abdullah Azzam kala itu yang langkahnya telah gontai terjatuh dan pingsan. Begitu siuman mahasiswanya bertanya kenapa sang guru tetap ngotot melanjutkan padahal kelelahan sudah menghampirinya. “Itulah (pingsan) batas maksimal dari usaha saya,” jawabnya.

Hidup yang kita lalui ini kendali sesungguhnya berada di tangan kita sendiri. Kita mau membawanya berlari sekencang-kencangnya, setengah berlari, berjalan, atau berjalan sesantai-santainya setapak demi setapak itu semua kembali kepada kita. Tapi yang pasti manusia tidak bisa menggugat Tuhan tentang kenapa dia di lahir dari perempuan ini-bukan itu, dari keluarga seperti ini-bukan itu. Dan sebab itu jugalah manusia dinilai bukan dari mana dia datang, tapi di mana atau seperti apa ending perjalanannya.

Seringkali kita mendengar bahwa hidup ini adalah pilihan. Begitu kita bangun dari tidur kita sudah di hadapkan pada pilihan; berdoa dulu atau langsung beraktivitas, memutuskan sekarang bergerak atau menarik selimut kembali. Datang sebelum waktu ke tempat tugas atau membandingkan dengan atasan yang kadang terlambat. Membaca saban hari seperti orang-orang membaca selembar dua lembar atau memutuskan untuk membaca puluhan atau ratusan lembar. Bekerja seperti yang lain pergi pagi dan istirahat di waktu sore atau terus mencari peluang yang lebih banyak lagi. Segera menyerah dengan laporan seadanya atau memaksimalkan untuk laporan sebaik-baiknya. Dan berjibun pilihan-pilihan lainnya dalam hari-hari yang kita lalui.

Dalam sejarah nabi-nabi tidak pernah akan kita temui pertolongan yang begitu cepat datang dari langit sebelum mereka memaksimalkan usaha mereka terlebih dahulu. Nabi Musa misalnya yang terus-terusan berlari menghindari kejaran Fir’un dan bala tentaranya, dan pada akhirnya terdesaklah Musa dan umatnya di tepi laut Merah, baru turun pertolongan untuk memukulkan tongkatnya ke laut tersebut dan seketika terbukalah jalan. Nabi Ibrahim bernegosiasi dulu dan memaksimalkan kemampuan retorikanya berdebat dengan Namrud, namun raja zolim itu tetap saja melemparkannya ke dalam api, ketika itulah Tuhan baru turun tangan.

Sebuah puisi dari hutan Afrika, bahwa setiap kali fajar menyingsing, seekor Singa harus berlari sekencang-kencangnya, kalau tidak ia akan kelaparan. Setiap kali fajar menyingsing seekor Rusa harus berlari, kalau tidak ia akan dimangsa.

Tanpa harus menjadi Singa atau Rusa maka dalam hidup ini berlarilah setiap hari. Adalah aib kalau kita mengerjakan sesuatu di bawah kemampuan kita sesungguhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar