Jumat, 17 Januari 2020

Jujurlah dalam Melangkah



Kisah si Buah Jujur
Seorang raja yang bijak, ia ingin anaknya yang akan melanjutkan kekuasaannya lebih bijak dan adil. Namun, anak raja ini masih senang dengan kemewahaan dan berfoya-foya, selalu berbohong kepadanya. Maka, sang raja memberikan titah agar anaknya meninggalkan istana dan mencari buah jujur. Sang anak tidak diizinkan pulang ke istana hingga ia berhasil membawa buah jujur.
            Maka, sang anak yang statusnya adalah pangeran pun berangkat meninggalkan istana. Ia pun pergi mencari buah jujur di beberapa negeri. Namun, ia tidak menemukan yang namanya buah jujur. Hingga pada suatu hari, ia berhenti di sebuah kebun semangka seorang petani. Ia pun bertanya seperti sebelumnya tentang buah jujur.   
            “Maaf pak, saya ingin mencari buah jujur, apakah bapak menanam buah jujur?”
            Petani tadi diam dan tersenyum, kemudian berkata,
            “Saya punya buah jujur, tapi tidak saya jual.”
            “Tolong pak, berapa pun harganya, akan saya bayar.”
            “Ooo tidak, tidak saya jual, kalau anak muda mau, silahkan tinggal di kebun saya dan bekerja di sini.” Tawar si Petani.
            “Baik, saya terima tawarannya asalkan saya bisa mendapatkan buah jujur.”
Sejak saat itu anak sang raja tersebut tinggal dan bekerja dengan si petani. Ia bekerja di kebun semangka. Setiap hari ia bertanya kepada petani, di mana buah jujur yang dijanjikan. Namun si petani tidak memberi buah jujur tersebut. Hingga suatu hari, anak raja tadi merasa sangat haus, sehingga ia mengambil sebuah semanggka milik petani tanpa izin. Hingga sore harinya si petani bertanya ke mana satu semangkanya. Ia kehilangan satu buah semangka. Namun pemuda tadi mengatakan ia tidak tahu.
            “Siapa yang tahu ke mana semangka saya yang satu itu, maka saya akan berikan ia buah jujur.” Ujar petani pura-pura tidak tahu.
            Dengan spontan anak sanga raja menjawab, “Saya yang mengambilnya pak.”
            “Nah, anak muda telah mendapatkan buah jujur yang anak cari. Buktinya anak sudah jujur mencuri semangka saya. Jadi tugas saya sudah usai. Anak muda tidak lagi bekerja di sini. Bawalah pulang buah jujurnya.”
            Setelah memohon maaf dan berterimakasih, anak sang raja pun pulang membawa pelajaran buah jujur dari seorang petani yang sederhana namun menyimpan tanaman jujur.
            Hingga suatu hari datanglah sang raja dan sang pangeran. Sang pangeran pun menceritakan bahwa ia adalah seorang pangeran yang dulu tidak jujur. Namun setelah belajar dari petani tadi, maka ia telah mengenal arti kejujuran tersebut. Dengan tidak tahu, petani tadi juga jadi sungkan, karena ternyata pemuda tadi adalah anak sang raja. Namun, sang raja sangat berterimaksaih kepada si petani dan memberikan hadiah. Namun, si petani berusaha menolaknya, ia lebih bahagia bisa berbagi dan menolong orang lain yang merupakan kewajiban sesama manusia tanpa pamrih.

Pesan cinta hikmah renungan:
Jujur adalah mata uang yang berlaku di seluruh dunia
Al-Birr, sebuah kata yang mengandung kebaikan menghimpun seluruh makna kebaikan. Jujurlah…,kata yang begitu halus dan mudah diucapkan oleh siapa saja, namun kata itu tidak semudah apa yang terucap untuk dikonsumsi oleh setiap orang, baik dari jenjang biasa hingga jenjang menjulang awan (pemimpin).
“Jujur adalah mata uang yang berlaku di seluruh dunia.” Pepatah yang sudah cukup antik ini mungkin terlalu kuno untuk menjadi standar gerak gerik sikap, perkataan, dan perbuatan pada era modern atau hanya tinggal topeng yang di olesi cat-cat tembok kepentingan diri, segelas kekuasaan, sepiring harta, atau sekoper nafsu syahwat. Akan tetapi bagi orang yang teguh dan kuat kepribadiannya, bahwa jujur adalah standar yang ‘wajib’ ada karena jujur adalah perkara mulia yang akan menunjukkan jalan ke surga.
Sekilas telaah ulang tentang pepatah di atas, jujur dan mata uang, dua kata, apa yang menjadi pelopor hingga kejujuran bisa dikaitkan dengan mata uang? Tidak dipungkiri ada mata uang tertentu yang sangat memandori mata uang dunia, ia berlaku di seluruh penjuru dunia atau sebagai standar mata uang internasional. Diterimanya suatu mata uang di suatu negara, suatu daerah, tempat atau bahkan di seluruh dunia, itu lah yang meyebabkan kiasan mata uang ada kaitannya dengan jujur.
Berkaitan dengan mata uang di atas, maka jujur, kejujuran dan orang yang jujur akan mudah diterima di manapun ia berada. Sifat jujur melahirkan kepercayaan yang kokoh, walaupun keberadaannya juga ada yang tidak menyukainya. Al-Amin adalah gelar Rasulullah SAW, beliau telah membuktikan bahwa kejujuran itu mendapat tempat di hati kaumnya, ia dikenal sangat jujur, dipercaya, beliau tidak pernah berbohong. Orang-orang Mekkah sangat menghargai beliau atas kejujurannya. Namun kita tahu orang-orang jahiliyah ketika Rasulullah menyeru kepada Islam, mereka mengingkari kejujuran Rasulullah yang nyata itu. Dan Rasulullah adalah teladan dan pelopor kejujuran itu.
Catatan hati:   Jujur itu perlu latihan, jujur di mana pun berada, nilai kejujuran, harga mati kejujuran, jujur menuju surga.
Selamat menikmati hidangan juice jujur dari surga...
Hidangan Tafakur:

Apa Pun Problemnya, Jujur Minumannya

            Bersiaplah selalu untuk menhadapi situasi yang menuntut kejujuran kita. Nasihat agar kita selalu berlaku jujur lebih mudah diucapkan daripada kenyataan. Bayangkan seseorang dalam keadaan “terjepit” ; bila ia berkata jujur, ia akan kehilangan kehilangan untung besar yang sudah ada dalam genggaman tangannya. Sebaliknya, bila ia mau sedikit berdusta bukan hanya keuntungan namun kebanggaan yang akan diraihnya. Sebenarnya kejujuran tidak berkaitan dengan untung rugi. Kejujuran adalah sebuah sikap yang tidak perlu dihitung dengan nilai uang. Kejujuran bukanlah sebuah pilihan. Seseorang melakukan dusta karena ia memilih untuk berdusta. Mengapa berdusta adalah pilihan? Karena kita tak bisa menipu diri. Hati nurani tidak bisa dibungkam meski ia hanya berbisik lirih. “Bawalah sekeping kejujuran di saku anda, itu melebihi mahkota raja diraja sekalipun....” (By. Andi Muzaki)

Penulis: Muklisin Raya Al-Bonai, Sumber lain dari Kisah-kisah Dunia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar