Kisah si Buah
Jujur
Seorang raja yang
bijak, ia ingin anaknya yang akan melanjutkan kekuasaannya lebih bijak dan
adil. Namun, anak raja ini masih senang dengan kemewahaan dan berfoya-foya,
selalu berbohong kepadanya. Maka, sang raja memberikan titah agar anaknya
meninggalkan istana dan mencari buah jujur. Sang anak tidak diizinkan pulang ke
istana hingga ia berhasil membawa buah jujur.
Maka, sang anak yang statusnya
adalah pangeran pun berangkat meninggalkan istana. Ia pun pergi mencari buah
jujur di beberapa negeri. Namun, ia tidak menemukan yang namanya buah jujur.
Hingga pada suatu hari, ia berhenti di sebuah kebun semangka seorang petani. Ia
pun bertanya seperti sebelumnya tentang buah jujur.
“Maaf pak, saya ingin mencari buah
jujur, apakah bapak menanam buah jujur?”
Petani tadi diam dan tersenyum,
kemudian berkata,
“Saya punya buah jujur, tapi tidak
saya jual.”
“Tolong pak, berapa pun harganya,
akan saya bayar.”
“Ooo tidak, tidak saya jual, kalau
anak muda mau, silahkan tinggal di kebun saya dan bekerja di sini.” Tawar si
Petani.
“Baik, saya terima tawarannya
asalkan saya bisa mendapatkan buah jujur.”
Sejak saat itu
anak sang raja tersebut tinggal dan bekerja dengan si petani. Ia bekerja di
kebun semangka. Setiap hari ia bertanya kepada petani, di mana buah jujur yang
dijanjikan. Namun si petani tidak memberi buah jujur tersebut. Hingga suatu
hari, anak raja tadi merasa sangat haus, sehingga ia mengambil sebuah semanggka
milik petani tanpa izin. Hingga sore harinya si petani bertanya ke mana satu
semangkanya. Ia kehilangan satu buah semangka. Namun pemuda tadi mengatakan ia
tidak tahu.
“Siapa yang tahu ke mana semangka
saya yang satu itu, maka saya akan berikan ia buah jujur.” Ujar petani
pura-pura tidak tahu.
Dengan spontan anak sanga raja
menjawab, “Saya yang mengambilnya pak.”
“Nah, anak muda telah mendapatkan
buah jujur yang anak cari. Buktinya anak sudah jujur mencuri semangka saya.
Jadi tugas saya sudah usai. Anak muda tidak lagi bekerja di sini. Bawalah
pulang buah jujurnya.”
Setelah memohon maaf dan
berterimakasih, anak sang raja pun pulang membawa pelajaran buah jujur dari
seorang petani yang sederhana namun menyimpan tanaman jujur.
Hingga suatu hari datanglah sang
raja dan sang pangeran. Sang pangeran pun menceritakan bahwa ia adalah seorang
pangeran yang dulu tidak jujur. Namun setelah belajar dari petani tadi, maka ia
telah mengenal arti kejujuran tersebut. Dengan tidak tahu, petani tadi juga jadi
sungkan, karena ternyata pemuda tadi adalah anak sang raja. Namun, sang raja
sangat berterimaksaih kepada si petani dan memberikan hadiah. Namun, si petani
berusaha menolaknya, ia lebih bahagia bisa berbagi dan menolong orang lain yang
merupakan kewajiban sesama manusia tanpa pamrih.
Pesan cinta hikmah renungan:
Jujur adalah mata
uang yang berlaku di seluruh dunia
Al-Birr, sebuah kata yang mengandung kebaikan menghimpun seluruh
makna kebaikan. Jujurlah…,kata yang begitu halus dan mudah diucapkan oleh siapa
saja, namun kata itu tidak semudah apa yang terucap untuk dikonsumsi oleh
setiap orang, baik dari jenjang biasa hingga jenjang menjulang awan (pemimpin).
“Jujur adalah mata uang yang berlaku di seluruh dunia.” Pepatah yang sudah
cukup antik ini mungkin terlalu kuno untuk menjadi standar gerak gerik sikap,
perkataan, dan perbuatan pada era modern atau hanya tinggal topeng yang di
olesi cat-cat tembok kepentingan diri, segelas kekuasaan, sepiring harta, atau
sekoper nafsu syahwat. Akan tetapi bagi orang yang teguh dan kuat kepribadiannya,
bahwa jujur adalah standar yang ‘wajib’ ada karena jujur adalah perkara mulia
yang akan menunjukkan jalan ke surga.
Sekilas telaah ulang tentang pepatah di atas, jujur dan mata uang,
dua kata, apa yang menjadi pelopor hingga kejujuran bisa dikaitkan dengan mata
uang? Tidak dipungkiri ada mata uang tertentu yang sangat memandori mata uang
dunia, ia berlaku di seluruh penjuru dunia atau sebagai standar mata uang
internasional. Diterimanya suatu mata uang di suatu negara, suatu daerah,
tempat atau bahkan di seluruh dunia, itu lah yang meyebabkan kiasan mata uang
ada kaitannya dengan jujur.
Berkaitan dengan mata uang di atas, maka jujur, kejujuran dan orang yang
jujur akan mudah diterima di manapun ia berada. Sifat jujur melahirkan
kepercayaan yang kokoh, walaupun keberadaannya juga ada yang tidak menyukainya.
Al-Amin adalah gelar Rasulullah SAW, beliau telah membuktikan bahwa
kejujuran itu mendapat tempat di hati kaumnya, ia dikenal sangat jujur,
dipercaya, beliau tidak pernah berbohong. Orang-orang Mekkah sangat menghargai
beliau atas kejujurannya. Namun kita tahu orang-orang jahiliyah ketika
Rasulullah menyeru kepada Islam, mereka mengingkari kejujuran Rasulullah yang
nyata itu. Dan Rasulullah adalah teladan dan pelopor kejujuran itu.
Catatan hati:
Jujur itu perlu latihan,
jujur di mana pun berada, nilai kejujuran, harga mati kejujuran, jujur menuju
surga.
Selamat menikmati
hidangan juice jujur dari surga...
Hidangan Tafakur:
Apa Pun Problemnya, Jujur
Minumannya
Bersiaplah selalu untuk menhadapi situasi yang menuntut
kejujuran kita. Nasihat agar kita selalu berlaku jujur lebih mudah diucapkan
daripada kenyataan. Bayangkan seseorang dalam keadaan “terjepit” ; bila ia
berkata jujur, ia akan kehilangan kehilangan untung besar yang sudah ada dalam
genggaman tangannya. Sebaliknya, bila ia mau sedikit berdusta bukan hanya
keuntungan namun kebanggaan yang akan diraihnya. Sebenarnya kejujuran tidak
berkaitan dengan untung rugi. Kejujuran adalah sebuah sikap yang tidak perlu
dihitung dengan nilai uang. Kejujuran bukanlah sebuah pilihan. Seseorang
melakukan dusta karena ia memilih untuk berdusta. Mengapa berdusta adalah
pilihan? Karena kita tak bisa menipu diri. Hati nurani tidak bisa dibungkam
meski ia hanya berbisik lirih. “Bawalah sekeping kejujuran di saku anda, itu
melebihi mahkota raja diraja sekalipun....” (By. Andi Muzaki)
Penulis: Muklisin Raya Al-Bonai, Sumber lain dari Kisah-kisah Dunia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar