Jumat, 17 Januari 2020

Ketika Segala Sesuatu Terpikir Biasa-Biasa Saja



Padahal setiap makhluk hidup adalah bukti keajaiban.

Apa yang terjadi ketika seseorang melihat semut yang berjalan di dinding, mengamatinya dengan seksama, lalu dilihat oleh orang lain. Al kisah, ada cerita menarik dalam sebuah dialog di salah satu sudut dunia ini...
“Eh, kamu lagi lihat apa sich?’ tanya Hamid pada temannya.
“Ooh, aku lagi lihat keajaiban. Tuh lihat, semut bisa jalan di dinding, Subhanallah. bisa tertib jalannya. Aku jadi kagum. Ajaib kan?” jawab Amir pada temannya.
“Alaaah.. kirain apa. Itu tuh biasa. Mana pula keajaiban. Keajaiban itu seperti yang kemarin aku lihat di kebun belakang rumah temanku. Di sana ada hewan mirip daun!”
“Eh, iya ya?? Tanya Hamid penasaran.
“Ya iyalah…”

            Beberapa bulan kemudian…
“Wah… ajaib ya hewan ini, mirip kali dengan daun…
“Mana pula ajaibnya. Aku lihat setiap hari benda ini di kebun rumahku. Aku tak heran toh..” jawab Hamid pula.
“Aku yakin setiap makhluk adalah bukti keajaiban penciptaan.”
Pesan cinta hikmah renungan:
"…orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."
(QS. Ali 'Imraan, 3:190-191)
Memahami tanda-tanda dan bukti-bukti kekuasaan sang Pencipta adalah sesuatu yang harus kita miliki. Seperti cerita di atas, ada hikmah sederhana dan penuh makna tersimpan rapi dan mudah dicerna oleh kita. Itulah inspirasi dari kehidupan agar kita senantiasa berpikir untuk mengenal siapa yang membuat semua ini. Setiap makhluk adalah bukti keajaiban. Keajaiban itu pula adalah bukti ada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu. Dari poin ini, kita disuguhkan oleh makhluk bernama semut, jarang diperhatikan oleh sebagian kita, sangat sepele, dan seolah tiada gunanya. Benarkah tiada gunanya? Tentu tidak. Mari kita lihat fakta ini. Seorang ilmuwan, Caryle P. Haskins, Ph.D., kepala Institut Carnegie di Washington menyatakan bahwa:
“Setelah 60 tahun mengamati dan mengkaji, saya masih takjub melihat betapa canggihnya perilaku sosial semut.… Semut merupakan model yang indah untuk kita gunakan dalam mempelajari akar perilaku hewan.”
            Tiada makna yang tersirat melainkan pesan kebaikan yang ‘bertubi-tubi’ datang dari segala penjuru, menyuguhkan arti sebuah penciptaan, menyuguhkan pemahaman bahwa ada sang Khalik yang menciptakan ini semua. Benarlah jika kita menganggap kita orang yang beriman, namun apakah kita sudah dianggap sebagai orang yang berpikir?

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS. An- Nahl, 16:11)
            Apakah kita sekarang menganggap semut di dinding sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja? Jika ditanya ‘seringkah kita melihat semut?’ jawabanya bisa sering. Ya, karena semut selalu ada di mana-mana. Seringkah kita berpikir tentang betapa ajaibnya semut? Hanya yang mau berpikir yang mampu melihat tanda-tanda itu, semoga kita selalu menjadi orang yang senang berpikir dan senang membaca alam ini atas kerendahhatian pada-Nya.
Teknologi, kerja gotong-royong, strategi militer, jaringan komunikasi yang maju, hierarki yang rasional dan cerdik, disiplin, perencanaan kota yang sempurna… dalam bidang-bidang ini, yang manusia mungkin jarang cukup berhasil, semut selalu sukses. Makhluk ini, dengan perlengkapan komplit untuk mengalahkan pesaing tangguh dan bertahan dalam kondisi alam yang sulit, dalam penglihatan kita mungkin semua serupa. Padahal, sebenarnya setiap spesies dari genus semut — yang jumlahnya ribuan — memiliki ciri-ciri yang berlainan.
-Harun Yahya-
            Catatan hati; Alam dan kehidupan adalah hamparan inspirasi, wawasan ide dan cinta yang bisa memacu kita dalam meraih kesuksesan dunia dan akhirat. Agar kita mau berpikir dan selanjutnya bersyukur atas penciptaan tersebut.
___________________________________________________
Hidangan Tafakur:

Syukurilah Apa Pun Itu…

Kita harus bersykur dengan apa pun yang menimpa kita. Lebih dari itu, ini bukan mengenai hal keberuntungan. Karena bersyukur menuntun kita untuk selalu menyingkirkan sisi negatif dari hidup. Akan ada orang yang mengatakan bahwa kita tidak realistis. Tapi, ingatlah bahwa sebenarnya sikap kita jauh lebih realistis saat kita bisa membebaskan diri dari ketakutan, kecemasan dan kesalahan.
Dengan bersyukur akan mendorong kita untuk lebih cepat bergerak maju dengan penuh optimis. Salah satu hal yang meringankan perjalan hidup kita adalah sikap syukur. Semakin banyak kita bersyukur semakin banyak yang akan kita peroleh. Begitu juga sebaliknya, jika kita ingkari maka semakin berat beban yang kita tanamkan dalam diri kita.
Kebanyakan orang lebih terpaku atas kegagalan yang telah terjadi lalu mengingkarinya. Tidak banyak orang yang bisa dan mau melihat pada kesuksesan yang telah diaraih lalu mensyukurinya. Sebab, kita takkan pernah berhasil dengan hanya mengeluh, menggerutu dan berkeluh kesah. Sedangkan kita bisa berusaha jika kita mampu melihat sisi positif dalam kehidupan ini.
 Hanya dengan bersyukurlah sisi positif tampak di pandangan kita secara jelas. Syukurilah keadaan kita sebagai makhluk Allah, yang disebut manusia. Bukankah sebaik-sebaik ciptaan adalah manusia? Namun bukan berati kita merendahkan makhluk lainnya, seperti penciptaan semut, lebah, dan makhluk lainnya yang juga ciptaan Allah. Karena tidak ada satu pun ciptaan Allah itu yang sia-sia. Maka, tugas kita adalah bersyukur. Selain itu kita harus ada ISI di hati kita. Yaitu ikhlas, sabar dan istiqomah (ISI).  Baik dalam kehidupan sosial, mapuan agama (dakwah).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar