Hidangan Kisah
Banyak dalam hidup ini kisah dan
perjalanan yang mungkin membuat kita lelah dan tak berdaya. Namun, bagi
sebagian jiwa yang memiliki motivasi untuk menjadikan hidup ini lebih bermakna,
mereka akan teguh walau badai silih berganti, kekurangan yang tak kunjung
cukup, dan ketidak sempurnaan. Mereka tidak berhenti melangkah sedikit pun,
saling memberi motivasi dan rela berkorban agar tetap bisa bermakna. Mari
renungkan kisah ini.
Di sebuah rumah sakit bersalin,
seorang ibu yang baru saja melahirkan dengan penuh kebahagian berkata kepada
pada seorang dokter,”Bisa saya melihat bayi saya?” ketika gendongan itu
berpindah ketangannya dan ia membuka selimutnya, ibu itu menahan nafasnya. Sementara
sang Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang kearah luar jendela
rumah sakit. Ternyata bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Namun
waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini tumbuh menjadi seorang anak
itu bekerja dengan sempurna. Tidak bisa dipungkiri, sindiran dari
teman-temannya yang mengatakan bahwa ia manusia planet, ada yang mengatakan ia
adalah titisan dewa langit karena tidak memiliki telinga.
Suatu hari anak lelaki itu
bergegas pulang kerumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu sambil
menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi.
Anak lelaki itu terisak-isak berkata, “Seorang anak laki-laki mengejekku.
Katanya, aku ini makhluk aneh.” Sang ibu
dengan dengan ketabahan yang luar biasa terus memotivasi si anak untuk
mengembangkan potensi yang ada dan meraih prestasi yang gemilang hingga duduk
di bangku perguruan tinggi.
Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia
cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman di sekolahnya. Ia juga
mengembangkan bakatnya dibidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi
ketua kelas. Ibunya mengingatkan, “Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan
remaja-remaja lain?” Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.
Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu
dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. “Saya percaya
saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya.” Tapi harus ada seseorang yang
bersedia mendonorkan telingannya,” kata dokter itu. Kemudian, orangtua anak
lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya
pada mereka. Hingga dokter itu mengatakan bahwa anak itu sudah bisa di cangkok,
dan cangkokannya sudah ada disimpan beberapa waktu lamanya dari seorang donor.
Mendengar berita gembira ini giranglah hati si anak, meskipun menyisakan
pertanyaan siapa yang telah mendonorkan telinganya untuk dirinya. Operasi
cangkok pun berjalan lancar, dan suatu perubahan penampilan dalam dirinya
terjadi, hingga rasa percaya dirinya meningkat seiring dengan prestasi yang ia
raih. Hal ini sekaligus mempercepat penyelesaian studi dan pencarian kerja.
Kini seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah
menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.
Beberapa waktu kemudian ia menikah dan bekerja sebagai diplomat. Ia menemui
ayahnya, “Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah mengorbankan ini semua
padaku. Ia telah membuat sesuatu yang besar, namun aku sama sekali belum
membalas kebaikannya.” Ayahnya mejawab, “Ayah yakin kau takkan bisa membalas
kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.” Setelah terdiam sesaat
ayahnya melanjutkan, “Sesuai perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui
rahasia ini, suatu hari kau akan tahu, nak!” Tahun berganti tahun. Kedua orang
tuanya tetap menyimpan rahasia.
Hingga tibalah saat yang paling
menyedihkan menimpa keluarga ini, sang ibunda tercinta meninggal dunia karena
sakit. Rasa kehilangan yang tidak terhingga dirasakan oleh sang anak tunggal
ini, masih terbayang dalam dirinya ketika ia diejek oleh rekan-rekannya,
ibunyalah yang menguatkannya. Ibunya pula yang selalu mendorong dirinya untuk
selalu menunjukan prestasi gemilang dengan tidak melupakan berbagi pada sesama
dan tetap bergantung pada ke-Maha kuasa-an Pencipta. Namun, kenangan itu
tinggal kenangan, sang ibu tercinta telah pergi untuk selama-lamanya. Saat akan
memberikan ciuman terakhir pada jasad si ibu, dengan didampingi sang ayah, sang
anak sempat terkesima ketika ketika menyibakkan rambut ibunya. Ternyata sang ibu
tidak memiliki telinga. Teka teki yang selama ini menganjal di dalam batinnya
pun terjawab sudah. Pantaslah, jika bertahun-tahun belakangan ini sang ibu
selalu berkata bahwa ia lebih suka memanjangkan rambutnya. Rupanya, ia tak
ingin si anak tahu jika donor daun telinga itu adalah ibunya sediri.
Begitu besar perngorbanan sang
ibu, dari melahirkan dengan taruhan nyawa, mendidik, memotivasi sampai-sampai
seluruh yang ia miliki diberikannya pada buah hatinya. Bagaimana kah seharusnya
sang anak, memang sang anak tak bisa membalasnya, namun berbuat baik dan
berbakti adalah tugas mulia. Renungkanlah dalam-dalam wahai pembaca yang
budiman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar